Senin, 11 Oktober 2010

-Alexandria, Perpaduan Keindahan & Sejarah ~(mesir 6)





Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat


Alexandria benar-benar sangat indah. Kota pantai terpanjang di Mesir itu juga menyimpan sejarah yang sangat tinggi nilainya. Sosoknya terpampang jelas sampai kini. Inilah kawasan paling utara Mesir yang menjadi saksi sejarah masuknya peradaban Islam dan Romawi ribuan tahun silam.

Pantainya menghadap ke laut Mediterania yang benar-benar memesona. Pasirnya putih kekuningan, khas padang pasir Timur Tengah. Berbaur dengan bebatuan yang menonjol disana-sini. Saya sempat menyusuri pantainya dengan berkendara mobil, dan mengukur jauhnya. Ternyata panjang sekali, sekitar 25 kilometer. Benar-benar pantai yang sangat eksotik.

Diujung paling barat terdapat benteng Qait Bey ~ sultan dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir dan Suriah tahun 1468-1496 M ~ dan di ujung paling timur ada Taman  Muntazah seluas 155 ha, dimana istana Raja Farouq berada. Raja Farouq adalah keturunan terakhir dari dinasti Muhammad Ali yang menjadi penguasa Mesir sejak abad 19. Raja Farouq digulingkan lewat kudeta militer oleh Gamal Abdul Nasser yang kemudian menggantikannya. Sekaligus mengubah sistem kerajaan menjadi sistem Republik, sejak tahun 1953.

Kudeta militer itu dilakukan, karena Raja Farouq dikenal sebagai raja yang suka berfoya-foya dalam kemewahan. Dan dianggap menghabiskan kekayaan negara untuk berbagai aktifitas pribadinya. Maka ia pun diasingkan ke Monaco, sampai meninggalnya. Disebabkan oleh kebiasaan makannya yang buruk, tubuhnya menjadi sangat gemuk dengan bobot 140 kg. Ia meninggal di atas meja makan, saat jamuan makan di Roma Italia, pada usia 45 tahun.

Asetnya yang sangat banyak dilelang oleh negara, setelah ia meninggal. Dan istananya yang di Alexandria pun dialihkan menjadi milik negara. Kini, Istana Raja Farouq digunakan sebagai tempat menerima tamu-tamu kenegaraan Mesir. Arsitek bangunannya sangat menawan, dan posisinya strategis. Dari sini kita bisa melihat hamparan laut Mediterania yang memesona. Apalagi di sana terdapat jembatan peninggalan Raja Farouq, yang khusus dibangun sebagai tempat untuk menikmati kawasan indah itu, lengkap dengan taman dan gazebonya.

Benteng Qait Bey adalah bangunan pertahanan yang didirikan oleh Sultan Qait Bey untuk menghadang gempuran pasukan Turki, dinasti Usmani. Bangunannya persis di pinggir laut, di bagian daratan yang menjorok. Berada di bagian paling atas, saya menyaksikan air laut yang langsung menghampar luas. Sehingga, memang sangat strategis untuk menghadang pasukan yang datang dari bagian utara, lewat laut.

Terdapat ruang-ruang perlindungan yang berlubang-lubang untuk menyorongkan senjata laras panjang ataupun meriam, menembaki musuh yang datang ketika mereka sudah berada dalam jarak jangkau tembakan. Sangat khas peperangan abad pertengahan. Tentu sekarang sudah tidak berguna lagi, karena bisa diserang dengan menggunakan pesawat terbang dengan bom-bom yang dijatuhkan dari atasnya. Atau, lebih gawat lagi dengan mengunakan peluru balistik yang memiliki daya jangkau ratusan sampai ribuan kilometer. Karena itu, benteng ini tinggal menjadi kenangan masa lalu, dan kini sekedar menjadi museum yang menyimpan sejarahnya.

Obyek menarik lainnya adalah perpustakaan Alexandria, tidak jauh dari benteng Qait Bey. Inilah perpustakaan terbesar dan tertua di dunia, yang menyimpan jutaan buku dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mulai dari zaman sebelum Masehi sampai zaman modern kini.
Cikal bakalnya dirintis pada tahun 323 SM, ketika kawasan ini dikuasai oleh Alexander The Great. Atau yang kita kenal sebagai Iskandar Zulkarnaen. Karena itu, oleh masyarakat Mesir kawasan ini disebut dengan 2 nama, yaitu Alexandria atau Iskandariyah. Inilah ibukota Mesir di zaman itu. Selama sekitar 1000 tahun Mesir berpusatkan disini. Dan baru dipindahkan ke Kairo oleh Amru bin Ash, ketika Islam masuk ke Mesir pada tahun 621 M.

Iskandar Zulkarnaenlah yang mula-mula membangun kota ini dengan mendatangkan sejumlah arsitek dari Yunani. Maka, kawasan ini sangat terasa selera Romawinya. Dan masih nampak dari berbagai bangunan peninggalannya. Termasuk, gedung theatre tempat adu gladiator yang sempat saya kunjungi. Tiruan gedung Colloseum di Italia, yang sudah ambruk dan berbentuk setengah lingkaran itu.

Iskandar Zulkarnaen memiliki panglima perang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, yaitu Ptolemi 1. Di zaman ptolemi 1 inilah ia mulai membangun perpustakaan yang sangat besar. Sehingga sampai di era Ptolemi 3, jumlah buku dan manuskrip yang ada di dalamnya sudah mencapai sekitar 700.000 buah. Sayang, perpustakan itu dihancurkan oleh Yulius Caesar, saat ia menyerang Mesir pada tahun 38 SM. Tak kurang dari 400.000 buku ludes dilalap api. Meskipun, kemudian Yulius Caesar meminta maaf dan menggantinya dengan menyumbang buku sebanyak 200.000 buah kepada ratu Mesir, Cleopatra, yang kemudian menjadi kekasihnya.

Perpustakaan yang sangat bersejarah itu lantas dibangun kembali pada tahun 1990 atas bantuan UNESCO. Baru selesai pada tahun 2002. Dan menjadi perpustakaan modern terbesar di dunia, dengan biaya sekitar USD 220 juta. Dilengkapi 500 komputer yang bisa mengakses semua buku secara digital, perpustakaan ini bisa menyimpan tak kurang dari 8 juta buku dari berbagai disiplin ilmu. Daya tampung ruangannya sekitar 1.700 orang. Difasilitasi ruang-ruang seminar dan pusat penelitian.

Disini tersimpan buku-buku dari berbagai bahasa, sejak zaman Yunani, Mesir Kuno, zaman keemasan Islam, sampai zaman modern. Diantaranya juga terdapat kitab Hindu dan Budha. Dari perpustakaan ini pula lahir nama-nama besar ilmuwan abad ketiga SM seperti Archimedes yang ahli matematika, Aristarchis yang secara spekulatif menyodorkan teori astronomi Bumi mengelilingi matahari, dan Euclides sang penemu ilmu geometri, matematika dan arsitektur.

Menyusuri kawasan wisata di Alexandria menjadi lebih lengkap dengan berziarah ke makam Luqman el Hakim yang namanya diabadikan dalam kitab suci al Qur’an sebagai nama surat ke-31. Dia adalah ’orang biasa’ yang dipuji-puji oleh al Qur’an karena nasehatnya yang bijak kepada anak-anaknya. Diantaranya, harus berbakti dan memuliakan orang tua, serta hanya bertuhan kepada Allah saja.

Juga masjid Al Abbas Al Mursyi, masjid berarsitektur unik dengan bentuknya yang segi enam dan empat kubah yang menjulang megah ke angkasa. Inilah masjid utama di Alexandria yang mengisi langit kawasan wisata itu dengan seruan ibadah. Al Mursyi adalah guru tasawuf Ibnu Atho’illah pengarang kitab Al Hikam yang banyak dibahas dan dipelajari oleh kalangan salaf di Indonesia.

Mengakhiri kunjungan di Alexandria, kami makan ikan bakar dan seafood di rumah makan yang menghadap ke pantai lepas. Sungguh romantis. Sayang, masakan disini lebih cenderung berasa hambar khas Eropa dan sangat kecut kesukaan orang Mesir. Tidak begitu cocok dengan lidah Indonesia. Apalagi harganya mahal, khas daerah wisata. Enakan makan nasi bebek dengan sambalnya yang pedas di Surabaya: berkeringat dan murah meriah..! (agusmustofa_63@yahoo.com) ~ (Dimuat di Jawa Pos Grup, 2 Juli 2010).
Agus mustofa....




Sabtu, 09 Oktober 2010

~ MAL PUN DIJAGA ANJING MILITER ~(mesir 5)


Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat




Nuansa politik yang militeristik di Mesir terasa sampai di pusat-pusat perbelanjaan. Pokoknya, dimana pusat keramaian, disitulah ada intel. Bahkan, tak jarang diiringi jejeran panser dengan pasukan bersenjata lengkap. Termasuk di sekitar masjid al Azhar ketika menyelenggarakan shalat Jum’at. Suasana ’tegang’ semacam itu, bisa dijumpai dimana-mana, dan terasa oleh mereka yang baru datang ke Mesir. Sementara, bagi penduduk setempat, itu adalah hal biasa.

Hari Jumat, untuk pertamakalinya , saya shalat di masjid Al Azhar yang legendaris. Bayangan saya, inilah masjid kampus tertua di Mesir yang telah mencetak ribuan ulama di seluruh dunia. Tentu, suasananya sangat akademik dan megah secara keilmuan. Bahkan, dalam bayangan saya, masjid itu juga megah secara fisik dan terawat dengan baik, di lingkungan yang asri, karena merupakan peninggalan sejarah yang tak ternilai dalam khasanah Islam.

Memasuki kawasan Al Azhar, saya tidak merasakan apa yang menjadi bayangan saya. Jalanan di sekitar al Azhar sedemikian ramainya. Cenderung macet. Apalagi menjelang waktu shalat Jum’at begini. Bahkan, hari-hari biasa pun, kawasan ini terkenal padat karena dekat dengan pasar Hussein dan bazaar Khan el Kholili. Mirip ’pasar seng’ di Mekkah yang menyediakan segala macam keperluan masyarakat. Mobil bercampur sepeda motor, gerobak, dan jejalan orang berjalan kaki. Saya teringat kawasan Ampel di Surabaya tempo dulu. Meskipun sekarang sudah semakin mending karena mendapat perhatian dari Pemkot Surabaya.

Saya benar-benar menyayangkan kondisi ini. Karena, tempat-tempat bersejarah yang lain seperti Piramid, museum Mesir kuno, benteng shalahuddin, dan berbagai situs yang komersial, mendapatkan perawatan yang cukup baik. Mungkin, karena mereka memperoleh dana perawatannya dari tiket masuk. Tetapi, menurut saya, masjid-masjid bersejarah itu pun mestinya bisa dikelola dengan cara sedemikian. Bukan hanya Al Azhar, masjid Amru bin Ash pun sama memprihatinkannya. Padahal dia adalah tokoh ’pembuka Mesir’, di zaman khalifah Umar bin Khathab. Dan juga Masjid Imam Syafii, dimana makam tokoh Mazhab terbesar di dunia Islam itu berada. Semuanya sangat mengenaskan. Berbungkus debu tebal dan kurang terawat.

Pikiran saya yang ’melantur’ tiba-tiba buyar ketika saya hampir memasuki pintu gerbang kampus al Azhar. Saya merasa aneh, karena di depan saya berjejer belasan panser, dan puluhan personal keamanan bersenjata lengkap. Ada yang berdiri di jalanan dan kemudian mondar-mandir. Ada yang di dalam mobil sambil mengoperasikan peralatan komunikasi. Ada yang duduk-duduk selonjor di dalam truk, tapi sambil melirik-lirik dengan pandangan mata tajam penuh selidik kepada setiap orang yang lewat.

Waktu itu, saya kebetulan membawa kamera foto, baru pulang dari mengelilingi tempat-tempat bersejarah. Tidak nyaman rasanya meninggalkan kamera di mobil. Maka, kamera pun saya tenteng masuk masjid. Ternyata bermasalah. Saya dicegat oleh personal keamanan. Dan ditanya macam-macam. Intinya dilarang membawa kamera ke dalam kampus. Untung, saya bersama sejumlah mahasiswa al Azhar. Mereka menunjukkan kartu Mahasiswanya, dan menjelaskan bahwa saya adalah tamu mereka. Turis biasa.

Seorang mahasiswa al Azhar, mengatakan kepada saya, jangan sampai saya menyebut diri sebagai shohafian ~ wartawan. Bisa-bisa dikuntit intel kemana pun saya pergi. Masuk dalam daftar orang-orang yang harus diawasi. Tensi politik di Mesir benar-benar sangat tinggi. Orang yang dicurigai secara politik, bisa ditangkap tanpa proses hukum apa pun. Dalam guyonan mereka, ’setiap satu orang target dikuntit oleh 3 orang intel’, dalam urusan politik.

Saya tanyakan kepada mahasiswa al Azhar, kenapa penjagaannya sedemikian ketatnya. Padahal, itu adalah kawasan masjid dan kampus. Katanya, pemerintah tidak mau kecolongan terhadap mahasiswa-mahasiswa yang berdemonstrasi. Karena, tidak jarang, seusai shalat Jum’at ada demo semacam itu. Misalnya, demo tentang penyerangan Israel terhadap Palestina beberapa waktu yang lalu. Ataupun, demo-demo lain yang bernuansa politis. Pemerintah menerapkan sistem militeristik untuk menekannya. Kestabilan keamanan adalah nomer wahid di Mesir.

Yang lain-lain boleh, dan diberi keleluasaan untuk berkembang seluas-luasnya. Tetapi jangan coba-coba menyentuh sektor keamanan. Terutama keamanan pemerintahan yang sedang berkuasa. Pemerintah pimpinan presiden Husni Mubarak berkuasa sejak tahun 1981, seusai Presiden Anwar Sadat terbunuh dalam suatu upacara militer. Ketika itu, Husni Mubarak menjabat sebagai wakil presiden dan lantas mengambil alih kekuasaan, sepeninggal Anwar Sadat. Militer berada di belakangnya sepenuhnya selama 30 tahun kekuasaannya.

Saat ini usia Husni Mubarak menginjak 81 tahun. Pada pemilu tahun depan, diperkirakan akan muncul kandidat-kandidat baru untuk menggantikannya. Diantara tokoh kuatnya adalah Letnan Jendral Omar Suleiman, Direktur Jenderal Badan Intelijen Mesir. Dia adalah tokoh kepercayaan Husni Mubarak, yang pernah menyelamatkannya dari percobaan pembunuhan di ibukota Etiopia, Adis Ababa, 1995.

Mesir stabil selama pemerintahan Mubarak. Negara dikendalikan dengan undang-undang darurat militer, yang diperpanjang lagi dua bulan lalu. Siapa saja berani melakukan aktifitas yang mengganggu, apalagi menggoyang kekuasaan langsung berhadapan dengan mekanisme militer. Dan diamankan tanpa ba bi bu lagi. Karena itu, tidak heran dimana-mana di penjuru Mesir terlihat panser dan tentara bersenjata lengkap siap mengamankan siapa saja yang berani coba-coba bikin onar.

Bahkan di Mal terbesar di Kairo, City Stars, saya sempat dibikin heran karena di pintu masuknya ada pasukan keamanan dengan anjing pelacak besar-besar. ’’Ada apa ini mas, kok diperiksa pasukan keamanan di pintu masuk Mal?’’ tanya saya kepada Rizky, mahasiswa Al Azhar yang saya ajak waktu itu. ’’Ah, ini biasa saja pak Agus. Beginilah setiap harinya, pasukan keamanan dimana-mana. Yang penting kita tidak mengutak-atik politik, aman-aman saja,’’ paparnya.

Dua anjing Herder yang sangat besar selalu diajak pasukan keamanan untuk memeriksa mobil-mobil yang masuk ke lokasi parkir. Rasanya seperti mau memasuki kawasan dengan kerahasiaan tingkat tinggi saja layaknya. Bukan pusat perbelanjaan. Namun, penduduk setempat sudah biasa dengan yang demikian itu. Bahkan sebagian kalangan malah merasa nyaman dengan situasi dan kondisi semacam ini. Maka, Mal City Stars ~ yang lebih megah dan lebih besar dari Tunjungan Plaza ~ itu pun menjadi tempatfavourite berkumpulnya para selebritis Mesir.

Yang masih tetap aneh bagi saya, disini pun kami sempat dilarang untuk memotret oleh penjaganya. Padahal, sekedar berpose di dekat pintu gerbang. Tapi, kemudian saya berusaha memakluminya, ketika sampai di pintu masuknya. Disitu pun terdapat peralatan scanning seperti di bandara-bandara. Setiap tas dan barang-barang yang ditenteng harus melewati sensor sinar x dan detektor logam, untuk memastikan apakah ada barang berbahaya di dalamnya. Mungkin mereka takut kecolongan seperti yang terjadi di Mega Kuningan, Jakarta. Bom meledak di pusat pertemuan orang-orang penting dari berbagai negara manca. Mudah-mudahan, bukan karena paranoid semata... (agusmustofa_63@yahoo.com) ~ (Dimuat di Grup Jawa Pos, 25 Juni 2010)



Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat



Jumat, 08 Oktober 2010

~ Nyaris Terkubur Bersama Fir’aun ~(mesir 4)

Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat

Peninggalan Firaun bertebaran di negeri Mesir. Salah satunya adalah kuburan Firaun yang ada di Kairo, yaitu Piramid. Sebenarnya, jenazahnya sudah tidak lagi disana, tersimpan di Museum Kairo dalam bentuk mumi, tetapi kuburan kosong itu masih menyimpan begitu banyak misteri yang menyeramkan. Konon banyak pintu dan lorong misterius di dalamnya, atau senjata-senjata rahasia yang mematikan bagi siapa saja yang memasukinya. Diantara tujuannya, agar kuburan itu tidak terjamah manusia.

Di Kairo, piramid terletak di kawasan Giza, pinggiran ibukota Mesir. Pucuk-pucuknya menjulang ke langit dan sudah tampak dari jalanan di pusat kota. Mengalahkan gedung-gedung tinggi pencakar langit yang menyesaki kawasan padat. Maka, untuk menuju ke kuburan penguasa Mesir Kuno itu hanya butuh waktu 20-30 menit saja.

Ada tiga Piramid yang berjejer secara diagonal. Yang paling besar piramid Cheops, berada di tengah. Diapit dua piramid yang lebih kecil Chevren, dan lebih kecil lagi Menkaura. Saya sempat masuk ke salah satu piramid bersama anak-anak saya. Bukan yang paling besar, melainkan yang nomer dua. Isteri saya tidak berani masuk ke dalamnya, karena jalan masuknya memang agak ’mengerikan’. Seperti lubang sumur yang curam dan gelap. Kedalamannya sekitar 30 m. Dengan arah lubang tidak tegak lurus ke bawah, melainkan turun dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Dari mulut gua yang curam itu, remang-remang kelihatan lantai dasar yang jauh disana. Di ujung anak tangga yang berjumlah ratusan langkah. Kalau setiap anak tangga berjarak 25 cm, maka ada minimal 120 anak tangga untuk sampai ke lantai dasarnya, yang entah akan mengantarkan kita kemana.

Yang lebih mengerikan, selain curam dan remang-remang, lubang masuknya tidak cukup dilalui dengan cara berdiri. Tinggi atap gua itu cuma sekitar 1 meter. Jadi, harus dengan cara membungkuk. Bisa Anda bayangkan, berjalan membungkuk sejauh 120 anak tangga, dan menurun curam dengan kemiringan 45 derajat. Saya awalnya ragu. Tetapi, didorong rasa ingin tahu, dan rayuan anak-anak, akhirnya saya pun membulatkan tekat untuk merasakan petualangan masuk ke kuburan Fir’aun.

Saya turun duluan. Di belakang, menyusul anak-anak saya Citra, Oka, dan Nindya. Berjalan membungkuk sambil menuruni anak tangga yang curam ternyata tidak mudah. Saya, berjalan sambil berpegangan pagar besi di kanan kiri tangga. Yang agak menyulitkan, cahaya di depan saya menjadi remang-remang karena tertutup oleh badan kami berempat. Ya, cahaya dari mulut gua di belakang kami terhalang.

Maka, saya turun dengan hati-hati, karena takut terpeleset. Jika itu terjadi, sungguh berbahaya, karena saya bisa menggelinding seperti batu yang jatuh dari lereng bukit. Setiap anak tangga saya jejaki dengan cermat. Di setiap bibir anak tangga itu dipasangi batang besi, untuk menahan agar anak tangga yang sudah berusia ribuan tahun tidak longsor. Maka, saya bisa menjejak dengan cukup kuat.

Semakin ke bawah, suasananya semakin seram dan misterius. Tetapi anak-anak di belakang saya berusaha mencairkannya dengan bercanda, sambil sesekali mengingatkan saya agar hati-hati dalam melangkah. Saya merasakan keringat dingin mulai meleleh di kening. Dan ada sesuatu yang menghimpit di dada. Nafas mulai memburu. Saya agak heran, kenapa bisa demikian.

Meskipun medannya agak berat dan curam, mestinya saya tidak perlu ngos-ngosan seperti itu. Karena saya tidak sedang mendaki. Saya sedang turun, dengan langkah yang hati-hati. Dan mestinya tidak mengeluarkan tenaga terlalu besar, kecuali tercekam oleh suasana yang agak misterius saja. Tetapi, saya merasakan keringat semakin banyak meleleh, dan nafas semakin berat.

Tak berapa lama, kami sampai di dasar gua. Atau, lebih tepat saya sebut ’sumur miring’ itu. Ruangannya agak lapang, kira-kira berukuran 3 x 3 meter. Disini saya bisa berdiri tegak, sambil melepas lelah karena selama sekitar 15 menit harus berjalan sambil membungkuk. Cahaya matahari pun agak terang menyinari dasar gua. Yang pertama karena mata kami sudah beradaptasi; dan yang kedua karena tidak terhalang lagi oleh badan kami seperti saat di tangga tadi.

Tapi, saya masih merasa aneh, karena keringat dingin terus meleleh di kening dan leher. Dan, dada saya semakin terasa sesak. Berat bernafas. Badan juga agak loyo. Ouhh, tiba-tiba saya menjerit tertahan. Saya baru sadar, ini adalah efek kekurangan oksigen. Ya, saya kekurangan oksigen, disebabkan turun ke dalam ‘sumur miring’ sedalam 30 meter. Jantung saya berdegup kencang, karena tahu bahaya yang sedang mengancam. Kami bisa mati lemas di dalam sini. Terkubur bersama Firaun...!

Saya menjadi bimbang untuk meneruskan petualangan. Saya melihat di depan saya ada anak tangga lagi yang bisa mengantarkan kami masuk ke wilayah lebih dalam. Ruangannya lebih gelap. Tapi, saya dengar ada suara bergema-gema, cukup ramai.

Tiba-tiba, semburat belasan anak muda menuruni tangga, keluar dari ruangan gelap itu. Mereka berlarian sambil berteriak-teriak dan terengah-engah melewati ’ruangan transit’ dimana kami berada. Mereka berebut merayapi anak tangga yang baru saja saya turuni. Dan bergegas naik ke mulut gua, 30 meter ke atas sana. Rupanya, mereka adalah turis-turis lokal dari luar kota Kairo. Mereka tidak kuat berlama-lama di ruangan bagian dalam itu. Kondisinya sama, kurang oksigen! Apalagi dimasuki oleh belasan orang, benar-benar berebut oksigen diantara sesama mereka.

Udara di sekitar ’ruangan transit’ pun terasa lebih panas. Badan saya semakin berkeringat. Nafas pun serasa lebih sesak, berebut udara dengan anak-anak yang semburat menaiki tangga. Saya menoleh kepada anak-anak saya. Dan bertanya, apakah mereka mau melanjutkan petualangan ke bagian yang lebih dalam...

Mereka menampakkan wajah penasaran. Sebaliknya, saya khawatir. Saya maklum, anak-anak muda memiliki rasa keingintahuan yang lebih besar dibandingkan orang tuanya. Maka, saya katakan ke mereka, bahwa mereka boleh masuk lebih ke dalam, tetapi dengan catatan: harus segera kembali jika oksigennya semakin tipis. Tandanya, bernafas terasa semakin berat.

Maka, Citra, Oka dan Nindya pun bergerak menapaki tangga naik di depannya, menuju ruangan bagian dalam. Sedangkan saya, memutuskan untuk kembali ke atas, ke mulut gua. Belum jauh saya memanjat ’tangga miring’ sambil membungkuk, saya mendengar anak-anak saya berteriak-teriak memanggil saya. Terengah-engah mereka berebut memanjat tangga menyusul saya, untuk kembali ke mulut gua.

Perjalanan memanjat tangga sepanjang 30 meter itu terasa sangat lama dan mencekam. Kami seperti sedang diburu ’hantu Firaun’ yang mengancam jiwa. Dalam keadaan kurang oksigen, kami harus memanjat tangga yang curam seperti itu. Benar-benar sangat riskan. Bisa-bisa kami kolaps di tengah perjalanan, karena oksigen yang kami butuhkan untuk menghasilkan energi tidak mencukupi..!

Tapi syukurlah, akhirnya kami sampai juga di mulut gua. Dengan kaki lemas, hampir tak kuat melangkah. Meskipun, kami sangat lega dan bahagia karena bisa bernafas lagi dengan leluasa di udara terbuka. Alhamdulillaahh...

Di dalam hati kami menggerutu: ’’huhh, ada-ada saja Fir’aun itu. Sudah lama mati, masih juga menyusahkan orang-orang yang ingin ’menziarahinya’...!’’
 Agus Mustofa
(agusmustofa_63@yahoo.com)

Kamis, 07 Oktober 2010

~ Bayar Ratusan Juta pun Harus Tunai ~(mesir3)



Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat



Perpaduan antara tradisi kuno-modern di Mesir menghasilkan budaya yang unik dan eksotik. Saya benar-benar tidak habis pikir, ketika membeli mobil di sebuah diler besar di Kairo harus membayar dengan uang tunai. Saya sampai bertanya dua kali kepada Muhammad Husni yang melayani pembelian, apakah benar saya tidak bisa membayar mobil dengan menggunakan kartu bank. Sambil tersenyum dia menjawab: ’’ma’aleisy ya basya (maaf tuan), memang harus begitu. Kami ingin yang pasti-pasti saja...’’.

Saya agak sulit menerima hal ini, terutama membayangkan orang lain yang membeli mobil-mobil dengan harga jauh lebih mahal dari yang saya beli. Tentu mereka harus membawa tas lebih besar untuk mewadahi duitnya, sekaligus harus selalu ’tolah-toleh’ke kanan kiri untuk mewasdai tindakan kriminal.

Hal kedua yang membuat saya sulit menerima adalah, karena saya tidak punya cukup uang cash untuk membayarnya. Saya harus mengambil uang di bank lewat ATM terlebih dulu, sebab saya memang tidak menyiapkan rekening di bank setempat ataupuntravellers cheque. Padahal, kalau mengambil lewat ATM, tentu harus berkali-kali, tidak bisa sekaligus. Saya hitung, saya harus bolak-balik ke ATM sebanyak 20 kali. Itu artinya, saya harus menunggu 20 hari, baru bisa memperoleh uang cash sebanyak itu. Padahal, saya membutuhkan mobil segera, untuk jadi ’kaki’ kesana kemari. Sewa mobil tentu jauh lebih mahal, dibandingkan kalau saya membeli baru, dan kemudian kelak dijual lagi ketika mau pulang ke Indonesia.

Saya memutar otak dan mencari informasi, untuk memperoleh uang tunai secara cepat. Akhirnya, saya mendapatkan caranya, yaitu menggunakan jalur ‘ATM swasta’. Ini adalah bisnis unik yang dikelola oleh para alumni al Azhar, disebabkan budaya bayar tunai seperti yang saya alami tersebut.

Mahasiswa Indonesia biasa mengirimkan uang dari Indo ke Mesir dengan memanfaatkan jasa ‘ATM swasta’ itu. Yang di Indo cukup mentransfer uang kirimannya ke rekening operator atau menyerahkan uang tunai dalam bentuk rupiah, dan dalam waktu sehari kemudian sudah bisa diambil dalam bentuk LE - pound Mesir - ataupun USD di Kairo. Mereka dikenakan biaya kirim sebesar Rp 50 ribu untuk kiriman senilai USD 250 pertama. Selebihnya, kena tambahan Rp 15 ribu, untuk kelipatannya.

Ini benar-benar mujarab untuk mengatasi masalah saya. Daripada saya harus menunggu 20 hari untuk mengumpulkan uang dari ATM, lebih baik saya memanfaatkan jasa ‘ATM swasta’. Maka, malam itu juga saya transfer uang rupiah ke rekening operator di Indonesia, dan besoknya saya memperoleh kabar dari operator di Mesir, bahwa uangnya sudah bisa diambil.

Cuma, lucunya, uang yang saya terima itu campuran dolar AS dan pound Mesir. Stok pound mereka tidak mencukupi. Sehingga sebagian besarnya saya terima dalam bentuk dollar. Itupun uang kertas yang agak lecek-lecek dan banyak pecahan kecil. Tapi tidak masalah. Di Mesir, dollar yang lecek-lecek tetap laku. Bahkan yang sudah dicorat-coret juga masih diminati. Berbeda dengan di Indonesia, lecek sedikit sudah tidak laku. Nomer seri agak lama, juga tidak laku. ’’Disini, jangankan lecek atau seri lama, yang robek pun masih laku keras,’’ tegas Herman, operator ATM swasta itu, lantas tertawa.

’’Alhamdulillah, akhirnya saya tidak perlu menunggu 20 hari’’, batin saya. Saya pun langsung menuju ke Ash Sharafah alias Money Changer untuk menukar uang USD ke LE. Ternyata benar kata mahasiswa al Azhar itu, tidak ada masalah berarti dengan uang dollar yang lecek dan pecahan kecil-kecil. Dengan cepat saya bisa menerima uang pound sejumlah yang saya maui, dan kursnya tetap bagus.

Maka, meluncurlah saya ke diler mobil ’Auto Samir Rayan’ membawa gepokan uang tunai. Pembayaran di bagian kasir mirip di bank. Tersedia beberapa mesin penghitung uang kertas, seperti teller bank saja layaknya. ’’Untung tidak menghitung pakai jari,’’ pikir saya. Tentu, akan sangat merepotkan jika menghitung omset miliaran rupiah secara manual. Bisa ’keriting’ jarinya.

Seusai transaksi, mobil langsung bisa dibawa pulang. Tanpa nomer polisi, hanya berbekal Surat Keterangan Diler yang berlaku sebulan, dan berlaku sebagai STNK sementara. Saya sudah boleh mengendarainya kemana-mana.  Sekali lagi, tanpa nomer polisi. Namun, karena kebiasaan di Indonesia, saya merasa tidak nyaman dengan mobil tanpa nomer polisi. Dan segera mengurus STNK ke kepolisian.

Ternyata pengurusannya cepat. Hanya dalam hitungan jam saja, sudah bisa memperoleh STNK. Tanpa BPKB (Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor). Ya, di Mesir, mobil tidak menggunakan BPKB. Cukup STNK – yang dalam bahasa slank Mesir dikenal sebagai Rukhshoh Arabiyyah. Atau, surat jalan untuk ’gerobak’. Sedangkan SIM disebut dengan istilah Rukhshoh Qiyadah, surat izin mengemudi.

Rasanya ada yang mengganjal di hati. Bagaimana mungkin saya membeli mobil tanpa memiliki bukti kepemilikan (BPKB). Cuma STNK, yang setara dengan ’surat jalan’. Kalau ada apa-apa dengan mobil itu, lantas bagaimana membuktikan bahwa mobil itu milik saya? Karena STNK bisa dipegang oleh siapa saja yang mengendarai mobil.

Pertanyaan seperti ini, dibantah tegas oleh polisi yang melayani, dengan pertanyaan: ’’Apakah Anda tidak percaya kepada kami?!’’ Oh, agak repot juga kalau sampai dia tersinggung. Akhirnya, saya puas-puaskan dan mantap-mantapkan dalam hati untuk membeli mobil tanpa BPKB seperti itu. Hanya berbekal ’surat jalan’.

Menurut kawan-kawan yang sudah memiliki mobil lebih dulu, memang begitulah di Mesir. Jika terjadi apa-apa dengan mobil, kita cukup melapor dengan menyerahkan STNK ~ jika STNK-nya tidak ikut hilang. Jika STNK-nya pun hilang, cukup menyebutkan nomer mobil. Misalnya, mobil saya dalam bahasa Arab bernomer ~ shad sin nun 859. Maka, mereka sudah bisa mencarinya dengan akurat.

Dari pengalaman seorang kawan, polisi bisa menemukan mobil yang hilang dalam waktu maksimum seminggu. Kebetulan ia berbisnis rental mobil.  Dan suatu ketika ia kehilangan dua mobil sekaligus. Hilang bersama STNK-nya. Maka, ia melapor berdasar nomer mobil saja. Dan benar-benar bisa ketemu dalam waktu relatif cepat! Tentu saja dia harus membayar untuk itu. Kisaran biayanya adalah 10 ribu – 20 ribu pound per mobil. Atau setara dengan Rp 17 juta – Rp 34 juta.

Biaya yang harus dibayarkan itu ditentukan oleh harga mobil dan kecepatan menemukannya. Semakin mahal mobil yang hilang, semakin mahal juga biaya untuk menemukannya. Saat itu, kawan saya kehilangan mobil yang berbeda. Yang satu kena biaya 10 ribu LE, dan satunya lagi kena 15 ribu LE.

Itu pun masih ditentukan oleh seberapa cepat kita ingin menemukan kembali mobil tersebut. Kecepatan ’dua hari’, tentu berbeda dengan ’seminggu’. Nah, waktu itu kawan saya memperoleh kembali mobilnya dalam waktu yang ’cukupan’ ~ 4 hari. Jadi membayarnya segitu, pertengahan. ’’Kalau saya ingin memperolehnya kembali dalam waktu hanya 1-2 hari, mereka juga bisa. Tapi, mungkin saya harus membayar 20 ribu LE,’’ katanya sambil nyengir..! (agusmustofa_63@yahoo.com)
 oleh Agus Mustofa 
(Dimuat di Jawa Pos Grup 11 Juni 2010)


Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat


Rabu, 06 Oktober 2010

~ Jenazah Digeletakkan di Kamar yang Kedap ~ (mesir 2)



Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat


Perpaduan tradisi yang kental dan religiusitas masyarakat Mesir tampak ~ salah satunya ~ dari bagaimana mereka memperlakukan jenazah. Di kalangan masyarakat kuno, mayat para tokoh seringkali diawetkan, sebagaimana Fir’aun. Jasadnya tidak dikubur di dalam tanah, melainkan dibalsem dan ditempatkan di dalam ruangan tertentu.

Utuk kalangan bangsawan biasanya ditempatkan di dalam piramid atau bangunan-bangunan khusus semacam itu. Sedangkan kalangan awam ’digeletakkan’ di ruang jenazah sebuah rumah pemakaman, hingga membusuk menjadi tulang belulang. Atau sebagiannya dikubur tanpa nama tanpa batu nisan.

Tradisi itu ternyata bertahan sampai kini. Di Kairo saya melihat kebiasaan seperti itu sebagai tradisi yang dominan. Berbeda dengan di Indonesia atau di Arab Saudi yang lebih suka mengubur jenazah di dalam tanah yang digali, di areal yang terbuka. Di Kairo mereka lebih suka membangun kavling-kavling berpagar tembok tanpa atap. Dan ’menggeletakkan’ jenazahnya di dalam ruangan bawah tanah. Boleh jadi, ini terinspirasi dari makam-makam Mesir kuno semacam Piramid Fir’aun.

Bukan hanya di kawasan baru, di kawasan lama pun demikian adanya. Ketika saya berziarah ke makam Imam Syafii, di sepanjang jalan menuju ke lokasi itu penuh dengan rumah-rumah pemakaman. Bangunannya sudah terlihat tua-tua, dan di dalamnya adabawwab alias penjaga rumah makam, yang seringkali tinggal disitu bersama keluarganya.

Di Kairo, sebagian besar areal pemakaman berisi bangunan-bangunan seperti itu. Mirip sebuah kawasan perumahan, atau real estate. Di dalam rumah-rumah yang luasnya sekitar 40 meter persegi itulah jenazah-jenazah ‘dimakamkan’ tanpa dikubur. Hanya digeletakkan di dalam ruangan bawah tanah. Bedanya dengan perumahan, rumah-rumah mungil itu tidak ada atapnya. Jadi seperti petak kavlingan berbatas pagar tinggi.

Namun demikian pintu masuknya dihiasi dengan ornamen-ornamen yang indah khas Mesir. Di atas pintu masuk atau kadang di dinding samping pintunya diberi batu berpahatkan nama pemilik ‘rumah masa depan’ itu. Di bagian dalam pintunya yang mungil terdapat areal terbuka yang dibagi menjadi beberapa petak fungsi. Salah satunya adalah semacam tempat istirahat yang dilengkapi dengan beberapa kursi. Di bagian ini ada atapnya, mirip sebuah gazebo.

Tetapi, selebihnya adalah daerah terbuka, yang di salah satu bagiannya ada pintu besi menuju ke ruangan bawah tanah. Pintu besi itu cukup berat, dan menutup kedap ruangan di bawahnya. Lebar tangganya hanya cukup untuk masuk dua orang berjejer. Kurang lebih ada 5-6 anak tangga menuju ke ruang bawah tanah. Dan kemudian kita akan menemukan ruang-ruang jenazah. Ruang jenazah laki-laki disendirikan. Demikian pula ruang untuk perempuan, dan anak-anak.

Lazimnya, ruang bawah tanah itu dibagi menjadi 3 ruangan tersebut. Akan tetapi, milik Muhammad Dardeerie yang sempat saya lihat, cuma berisi dua ruangan saja, yaitu untuk lelaki dan wanita dewasa. Masing-masing berukuran sekitar 3x3 meter. Sedangkan untuk anak-anak, dipisahkan di ruang bawah tanah yang lain, di kavling yang sama.

Lelaki Mesir berusia 65 tahun itu sedang membangun rumah makam keluarga. Ia membelinya dari orang lain, dan kemudian memugar sesuai dengan keinginannya. Jadi, tempat itu sudah pernah dihuni oleh jenazah-jenazah terdahulu. Akan tetapi, karena berganti pemilik, maka tulang-belulang jenazahnya sudah disingkirkan dan ditanam di luar kavling tersebut, sesuai dengan keinginan pemilik lama.

Rumah makam seperti itu, memang dimiliki oleh seseorang. Dan bisa digunakan secara privat untuk keluarganya atau untuk pemakaman umum. Yang untuk pemakaman umum, biasanya dimiliki oleh para syekh atau lembaga-lembaga amal. Pemakaman milik para syekh bisa digunakan oleh siapa saja yang menjadi jamaahnya, dengan membayar biaya sangat murah, dibandingkan harus membeli kavling berharga puluhan ribu pound. Para jamaah cuma membayar 50 LE (Pound Egypt) atau sekitar Rp 85.000,- saja. Satu pound Mesir sekitar Rp 1.700,-

Seorang mahasiswa Indonesia pernah memanfaatkan jasa rumah pemakaman tersebut. Yakni, ketika anaknya yang terlahir di Kairo meninggal dunia. Karena ia tidak punya rumah pemakaman, maka ia pun menghubungi syekh yang menjadi imam di masjid dekat tempat tinggalnya. Ia cukup membayar 50 LE, dan sudah diperbolehkan untuk ‘menguburkan’ jenazah anaknya di rumah makam tersebut. Yang demikian, bukan hanya berlaku buat dia, melainkan buat siapa saja dari jamaah masjid yang tidak memiliki rumah pemakaman.

Jenazah anak yang masih bayi itu dimandikan di rumah sakit, dan kemudian dishalatkan di masjid dekat rumahnya, dipimpin oleh sang Syekh. Di Mesir, katanya, tidak ada shalat jenazah yang diselenggarakan di rumah. Mesti di masjid. Dan, biasanya dikuburkan sesudah waktu Zhuhur. Selain karena tradisi yang sudah turun temurun, hal itu juga disebabkan model perumahan di Mesir yang berbentuk apartemen bertingkat-tingkat. Tentu sangat merepotkan jika diselenggarakan di rumah. Apalagi jika tempat tinggalnya di lantai atas. Ruangan apartemen sangatlah terbatas luasnya.

Setelah dirawat sesuai dengan syariat Islam, maka jenazah bayi itu dimakamkan di salah satu ruang jenazah yang khusus anak, milik syekh. Di ruang bawah tanah, ada tiga ruangan. Satu untuk dewasa laki-laki. Satu untuk dewasa perempuan. Dan satu lagi untuk anak-anak.
Di dalam ruangan berukuran sekitar 3 x 3 meter itu sudah terdapat beberapa mayat sebelumnya yang sudah membusuk. Sebagian lagi tinggal tulang belulang berbungkus kain putih. Setiap mayat diletakkan membujur dengan menghadap ke kiblat. Di Mesir kiblatnya ke arah timur-selatan. Karena negeri ini berada di utara Mekah, agak ke barat. Jadi, kepala jenazah ada di bagian selatan-barat, dan kakinya di bagian timur-utara. Miring ke kanan.

Tidak ada lubang yang disiapkan untuk mengubur jenazah bayi itu. Hanya lantai batu yang poris bertabur pasir, sehingga bisa meresapkan cairan yang meleleh. Jenazah dijejerkan ke arah kiblat seperti berbaris, di atas lantai, dan kemudian ditaburi tanah pasir yang ada di ruangan itu. Kemudian didoai bersama, dipimpin oleh syekh.

Siapa saja boleh masuk ke ruang jenazah itu, terutama para kerabat. Tetapi, karena ruangan yang tersedia tidak terlalu besar, maka praktis hanya sekitar 4-5 orang saja yang bisa mengantar jenazah sampai di ruang peristirahatan terakhir itu. Itu pun bagi siapa yang kuat menahan bau busuk mayat yang sangat menyengat dari penghuni terdahulu. Sejak pintu ruang bawah tanah dibuka, bau busuk sudah menyambar hidung dengan sangat kuatnya. Kekedapan pintu besi itulah yang menyebabkan ruangan terbuka di atasnya tidak terkontaminasi bau mayat. Akan tetapi, begitu dibuka, banyak yang tidak sanggup bertahan, dan kemudian keluar menjauh. Terutama jika ada jenazah yang masih relatif baru.

Jika, ruang bawah tanah itu sudah penuh dengan jenazah, maka jenazah yang paling lama biasanya yang disingkirkan. Tulang-belulangnya dibungkus kain kafannya dan kemudian diikat seperti bungkusan karung untuk ditanam di bagian lain kavling pemakaman itu, yang disebut sebagai ’lubang tulang belulang’. Proses ini dilakukan oleh penjaga makam tanpa pemberitahuan kepada keluarganya, karena jenazah-jenazah itu memang tidak diberi nama. Sehingga tidak diketahui lagi milik keluarga yang mana.

Makam yang punya nama, disini kebanyakan hanya dimiliki oleh para tokoh atau pun orang-orang kaya yang bisa membeli rumah makam secara pribadi. Para ulama-ulama besar terdahulu dan tokoh-tokok sosial politik, adalah diantara mereka yang makamnya masih dirawat dan diziarahi oleh pengagumnya. Sedangkan selebihnya, hanya menjadi sebungkus onggokan yang disatukan ke dalam ’lubang tulang belulang’ bersama jasad-jasad lainnya yang tanpa nama.

Maka, begitulah nasehat kitab suci al Qur’an, agar setiap kita  menjadi orang yang bermanfaat sebesar-besarnya sepanjang hidup. Agar kelak setelah mati, tidak sekedar menjadi onggokan tulang belulang tanpa nama. Melainkan, masih ’tetap hidup’ selamanya karena memberikan manfaat kepada manusia yang ditinggalkannya. Sebagaimana para nabi yang telah membimbing umatnya ke jalan Tuhan...

QS. Ash Shaaffaat (37): 108
Dan Kami abadikan untuk dia  (pujian yang baik) pada generasi-generasi sesudahnya...
 Agus Mustofa
(Dimuat di Jawa Pos Grup, 4 Juni 2010)

Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat



Selasa, 05 Oktober 2010

~ ’Harga’ Wanita Sangat Mahal ~


Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat


            Beberapa bulan yang lalu, Pak Dahlan Iskan – CEO Jawa Pos waktu itu – menghubungi saya per telpon. Saya sedang dalam perjalanan menuju Bandara Juanda mengantar anak kedua saya untuk pulang ke Australia, seusai liburan sekolah.
            ’’Anda tidak ingin tinggal di Timur Tengah, selama setahun?’’ tanya Pak Dahlan di seberang sana. Saya agak terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. ’’Di negara mana? ’’ tanya saya. ’’Di Arab Saudi,’’ sebutnya. Saya tercenung beberapa saat. Lantas, saya menawar begini: ’’Daripada Arab Saudi, saya lebih memilih Mesir.’’
            Terdengar suara tertawa pendek di seberang sana. Disambung komentar,’’ O ya, tentu saja Anda lebih memilih Mesir, karena akan bisa lebih bebas dalam mengembangkan pemikiran disana...’’
            Itulah background-nya, kenapa sekarang saya berada di Mesir. Negara yang terkenal dengan budayanya yang sudah berumur ribuan tahun. Sudah beberapa hari ini saya berada di Negeri Seribu Menara itu (5 bulan lalu pen.). Negeri yang demikian banyak menara masjid bermunculan dimana-mana, tetapi sekaligus membuka diri kepada dinamika kehidupan modern yang cenderung liberal. Insya Allah, saya akan tinggal disini dalam kurun setahun ke depan.
Saya ingin belajar banyak hal, mulai dari bahasa, budaya, sosial, religiusitas, sejarah, dan perkembangan peradaban yang sangat menarik. Supaya, inspirasi saya sebagai seorang penulis tidak lekas kering. Dan Insya Allah saya akan menuliskan pengalaman-pengalaman saya itu di koran Jawa Pos secara berkala, setiap Minggu. Selain itu, saya juga masih menulis buku-buku Serial Diskusi Tasawuf Modern yang terbit setiap 3 bulan sekali sebagaimana biasa.
Minggu lalu saya baru tiba di Kairo. Hari pertama langsung saya gunakan huntingapartemen, untuk tempat tinggal selama setahun ke depan. Dan baru di hari kedua saya memperoleh apartemen yang saya butuhkan. Di kawasan Distrik 7 atau yang lebih dikenal sebagai Hayyi Sabi’.
Itu adalah sebuah apartemen yang strategis, di pojok perempatan jalan raya, di persimpangan pertokoan yang ramai. Saya sengaja memilih kawasan seperti itu agar bisa merasakan denyut kehidupan kota Kairo. Pemiliknya adalah keluarga dokter yang baik hati. Mereka tinggal tidak jauh dari apartemen saya, hanya beberapa blok saja. Yaitu kawasan Abbas el Aqqad, kawasan bisnis yang juga sibuk.
Meskipun sudah memperoleh apartemen untuk tinggal permanen, saya tidak bisa langsung menempatinya. Saya harus menunggu beberapa perbaikan fasilitas yang dijanjikannya. Diantaranya, AC ruangan yang kurang dingin, fungsi parabola, dan jaringan internet yang baru siap seminggu kemudian.
Maka, selama beberapa hari ini saya tinggal di Graha Jatim, milik perkumpulan Mahasiswa Jawa Timur. Graha ini hibah Gubernur Jatim Imam Utomo, waktu itu. Disinilah sejumlah tamu Indonesia biasa transit, sebelum memperoleh tempat tinggal permanen. Di album fotonya terpampang sejumlah tokoh, diantaranya KH. Abdullah Syukri Zarkasyi MA, sesepuh pondok modern Gontor; Prof Dr Zamroni, Dirjen Pendidikan Indonesia beserta keluarga; Muhammad Muhajir, Atase Pendidikan & Kebudayaan KBRI di Belanda beserta keluarga; keluarga Atase Pertahanan KBRI Arab Saudi; dan keluarga Duta Besar RI di Aljazair. Sedangkan dari kalangan artis, terpampang foto Minati Atmanegara dan Didi Petet, saat syuting film ’Ketika Cinta Bertasbih’ yang diadaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazi.
Saat negosiasi apartemen yang hendak saya sewa, saya didampingi sejumlah mahasiswa al Azhar. Kami ditemui oleh pemiliknya, dr Sayyid beserta istri. Pasangan suami istri yang berpostur tinggi besar itu sangat baik hati, dengan tutur kata khas orang-orang berpendidikan. Sehingga, negosiasi berlangsung gayeng.
Yang menarik, sang istri sangat dominan ketika bernegosiasi. Sedang sang dokter lebih banyak berdiam diri. Hanya sesekali dia menimpali, untuk menegaskan penjelasan sang istri. Ternyata ini ada kaitannya dengan tradisi Mesir terhadap kepemilikan rumah. Di Mesir, rumah adalah hak istri. Hadiah sepenuhnya yang diberikan oleh seorang suami kepada istri ketika menikah. Karena itu, pengelolaannya juga terserah kepada istri. Termasuk apartemen yang saya sewa itu.
Mulai dari menjelaskan segala fasilitas yang tersedia sampai menerima pembayaran sewa, semuanya dilakukan sang istri. Sedangkan suami tinggal tanda tangan saja, ketika semua negosiasi telah disepakati. Ini berbeda dengan di Arab Saudi, dimana perempuan kalah dominan dibandingkan suami. Semua urusan terserah kepada suami. Istri tinggal menerima belanja dari suami untuk segala keperluannya. Sampai-sampai kawan saya – seorang tour guide – yang lama tinggal di Arab Saudi mengatakan, tugas seorang wanita disana hanyalah di seputar kamar tidur, dapur, dan meja rias.
Di Mesir ~ yang notabene negara Arab, dominan Islam ~ lebih maju. Saya melihat, wanita lebih bebas melakukan berbagai aktifitas. Termasuk menyetir mobil di jalan raya. Sangat banyak saya temui, wanita yang berkendara sendirian atau bersama anak-anaknya. Bahkan banyak yang sambil menempelkan handphone di telinganya. Meskipun yang demikian ini, kalau ketahuan polisi bakal ditilang. Tapi, wanita muslim maupun non muslim memperoleh pernghargaan yang istimewa di sini.
Pemerintah memberikan perlindungan yang sangat baik kepada perempuan. Bahkan kadang terasa berlebihan. Seorang mahasiswa al Azhar sempat ditangkap polisi, hanya gara-gara kesalahpahaman dikira melecehkan seorang wanita. Ketika itu, si mahasiswa turun dari apartemennya menggunakan lift. Dalam waktu bersamaan, ada seorang anak perempuan kecil yang bermain-main tombol lift itu. Setiap lantai ia pencet tombolnya, sehingga lift tidak bisa segera sampai di bawah. Anak kecil itu di setiap lantai selalu keluar sebentar, kemudian masuk lagi.
Si mahasiswa agak gemas melihat kebengalannya. Lantas menegur si anak. Sesampai di lantai dasar, anak tersebut keluar sambil menangis, dan ternyata melapor kepada ibunya yang ada di situ. Sang ibu pun marah kepada si mahasiswa. Dan kemudian sempat adu mulut. Di luar dugaan, sang ibu melapor kepada polisi. Dan si polisi benar-benar datang menangkap mahasiswa itu. Lantas, menahannya sampai beberapa minggu tanpa proses hukum. Benar-benar sial nasibnya. Untung, akhirnya bisa dinegosiasi oleh pihak Kedutaan...
Meskipun di dunia politik wanita Mesir masih belum memperoleh tempat yang layak, di dunia pendidikan dan sosial mereka dihormati. Tidak sedikit dokter ataupun Doktor wanita yang mengajar di perguruan tinggi misalnya. Di dalam bis umum pun, mereka mendapat perlakuan yang baik. Beberapa baris kursi depan diutamakan untuk wanita. Para lelaki selalu mengalah, dan segera berdiri ketika ada penumpang wanita yang tidak kebagian tempat duduk. Tidak masalah mereka bepergian sendirian ~ naik kendaraan umum, mobil pribadi, ataupun berjalan kaki.
            Dalam perkawinan, wanita Mesir memperoleh posisi tawar yang sangat kuat. Lelaki tidak memiliki hak atas rumah dan isinya. Sejak menjelang pernikahan, pihak orang tua wanita lazim meminta mahar dalam jumlah sangat besar, yakni: rumah atau apartemen dengan segala perabotnya. Jika tidak bisa, maka perkawinan dapat dibatalkan. Meskipun secara hukum dan agama sudah sah.
            Karena itu, banyak lelaki yang mengeluhkan tradisi tersebut. Mereka merasa berat harus membeli rumah dan segala perabotnya, yang bernilai puluhan atau ratusan ribu pound sebagai syarat pernikahan. Tidak heran di Mesir banyak lelaki melajang, dan baru menikah ketika usia sudah cukup tua. Yaitu, saat mereka sudah mapan secara ekonomi dan bisa membeli rumah dengan segala isinya. Mereka lantas menikah dengan perempuan-perempuan yang jauh lebih muda. Adalah lazim menemukan pasangan suami istri yang usianya berbeda jauh seperti itu. Sang suami sudah tua, istrinya masih muda, dan anak-anaknya masih balita.
            Maka, tak sedikit lelaki Mesir yang ingin kawin dengan wanita non Mesir, termasuk mahasiswi Indonesia. Bukan hanya karena murahnya menikah dengan wanita non Mesir, melainkan juga posisi tawar lelaki di dalam rumah tangga yang sangat lemah ketika mengawini wanita Mesir. Betapa tidak, sebelum menikah mereka harus bisa mengumpulkan biaya mahar ribuan pound untuk membeli rumah dan segala isinya. Dan ketika menikah, semua itu dihadiahkan kepada pihak keluarga istri, diatasnamakan keluarganya ataupun istrinya. Dan ketika terjadi perceraian, sang suami bakal jatuh miskin, karena diusir oleh istrinya dari rumah yang dibelinya, keluar hanya dengan berbekal pakaian seadanya..! (Dimuat di Jawa Pos Grup, 26 Mei 2010)
Agus Mustofa


Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat