Kamis, 23 September 2010

~ Mendaki Gunung Sinai di Waktu Sahur ~

EKSPEDISI SUNGAI NIL (27)

oleh Agus Mustofa pada 06 September 2010 jam 12:18

~ Mendaki Gunung Sinai di Waktu Sahur ~


dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat
sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu,
web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa
solat

Menjelang Maghrib kami baru sampai di kota St Katherine. Inilah sebuah kota kecil di kaki gunung Sinai, yang penduduknya hanya beberapa ribu keluarga. Kotanya tenang, jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor. Kawasan lembah ini berada di cekukan perbukitan batu yang tandus dan tebing-tebing tinggi. Bagaikan bayang-bayang raksasa yang sedang berkerumun, saat matahari hampir tenggelam, jam tujuh malam.

Kami langsung mencari penginapan agar bisa beristirahat sejenak, setelah berkendara 6 jam melintasi gurun pasir. Sejumlah hotel strategis yang kami datangi fully-booked, tak ada kamar kosong. Kami pun mencari yang agak ke ujung jalan, dan alhamdulillahmasih ada. Ternyata, sejumlah hotel itu dipesan oleh rombongan turis dari Eropa. Beberapa bis berderet-deret di depan hotel mereka.

Jam dua dini hari, usai shalat malam dan sahur, kami telah berada di kaki gunung Sinai. Terminalnya penuh dengan bis dan kendaraan para peziarah. Kebanyakan datang dari Eropa, dan beragama kristen. Sebagiannya lagi orang-orang Yahudi. Dan sedikit diantaranya beragama Islam. Bagi orang Kristen dan Yahudi, berziarah ke gunung Sinai ini setara dengan umroh ke tanah suci Mekkah bagi umat Islam.

Mereka terlihat membawa perbekalan yang cukup untuk mendaki gunung setinggi 2.285 meter dari permukaan laut. Tetapi, pendakian dari kaki Sinai sebenarnya tinggal menyisakan sekitar 1000 meter saja. Jalan setapaknya hanya bisa dilewati unta dan manusia. Saya lihat, kebanyakan peziarah membawa ransel kecil berisi makanan dan minuman, sambil memegang tongkat.

Yang paling penting adalah minuman atau air mineral. Karena dari pengalaman para peziarah sebelumnya, pendakian itu akan memakan waktu 4 jam untuk naik, dan 3 jam untuk turun. Jadi, total sekitar 7 jam. Tentu, harus mengganti tenaga yang hilang dengan makanan dan minuman. Sayang, kami tidak akan bisa melakukan itu, karena sedang berpuasa. Tetapi, tekat kami sudah bulat. Kami harus sampai ke atas. Terutama saya, agar bisa bercerita untuk pembaca.

Di waktu sahur itulah kami mulai mendaki dengan berjalan kaki. Suasana gelap malam hari mengharuskan peziarah membawa lampu senter. Tapi, setelah beberapa saat berjalan dalam kegelapan, kami memilih untuk tidak menggunakannya lagi. Mata kami sudah beradaptasi dengan kegelapan malam. Apalagi, bulan sepotong di langit sangat membantu menerangi jalanan setapak yang kami lewati.

Tak berapa lama berjalan, kami bertemu dengan gereja besar di kaki gunung Sinai: Gereja St Katherine, gereja legendaris masyarakat kota ini. Di depannya ada pos penjagaan polisi. Kami ditanyai, apakah sudah membawa pemandu untuk berziarah. Sebab, bagi yang tidak kenal rutenya, bisa tersesat. Dan tidak diizinkan untuk meneruskan perjalanan. Kecuali, ’menyewa’ salah satu polisi itu sebagai guide. Kami berusaha menawar, agar kami bisa mendaki sendiri, karena salah satu anggota tim ekspedisi ~ Dadan S. Junaedy ~ sudah pernah mendakinya.

Mereka tetap bersikukuh melarang. Kecuali, bila kami mau menyewa unta dan penggembalanya yang orang Badui. Akhirnya, kami memutuskan menyewa unta saja, empat ekor. Sekalian untuk berhemat tenaga karena sedang dalam kondisi puasa. Maka, menjelang subuh itu kami mengendarai unta menuju ke puncak Sinai.

Ternyata, naik unta dalam waktu lama tidak senyaman yang kita duga. Perut dan pinggang serasa dikocok-kocok, sakit semua. Lebih nikmat berjalan kaki. Apalagi, di jalanan menanjak, dan unta yang kadang tidak dijaga sepenuhnya oleh para penggembalanya. Setiap dua ekor unta dijaga oleh satu orang Badui. Maka, satu jam naik unta, isteri saya menyerah. Ia yang sempat ketakutan karena untanya lepas kendali, akhirnya minta turun di pos peristirahatan pertama. Dan tidak mau melanjutkan mendaki lagi. Dia ketakutan naik unta di jalanan terjal, apalagi badan terasa pegal-pegal.

Saya memutuskan melanjutkan perjalanan berdua dengan Dadan. Sedang anggota tim lainnya, Yovi saya minta untuk menemani isteri saya di pos tersebut. Perjalanan yang tersisa masih sekitar 2,5 jam. Dengan rute yang semakin menanjak. Saya shalat subuh di atas unta. Karena tidak ada musholla atau tempat yang layak untuk turun shalat.

Dua jam kemudian, punggung dan perut saya benar-benar terasa sakit. Hampir-hampir tak tahan rasanya. Untung, di depan saya sudah terlihat tempat pemberhentian terakhir, yaitu pos ke tujuh. Sisa rutenya, sudah tidak bisa ditempuh dengan naik unta lagi. Harus berjalan kaki. Dan, masya Allah, sisa rute itu ternyata berupa tebing terjal menuju puncak Jabbal Musa. Di depan saya membentang anak tangga dari bebatuan dengan kemiringan antara 45 – 60 derajat.

Anak tangga itu berjumlah sekitar 800 buah. Ketinggian setiap trapnya sekitar 30 cm. Jadi, tebing yang masih harus didaki sekitar 250 meter lagi. Inilah perjuangan terakhir, sebelum para peziarah menikmati matahari terbit di puncak Sinai dan merasakan suasana Nabi Musa saat berada di sana. Dengan mengempos semangat, saya melangkah mendaki tebing curam dengan hati-hati, menjelang pagi.      

Ketinggian yang hanya 250 meter itu serasa berkilo-kilo meter saja laiknya. Setiap belasan anak tangga, nafas saya terengah-engah. Maklum sudah lebih dari 20 tahun tidak pernah berjalan mendaki gunung lagi. Dan, tenggorokan yang kering disebabkan nafas memburu, kini tidak bisa dibasahi air lagi karena berpuasa.

Tapi, semangat saya tak surut sedikit pun, terbayang betapa nabi Musa naik ke bukit ini sendirian untuk bermunajat kepada Allah. Sekitar setengah jam kemudian, perjuangan itu berakhir. Jantung terasa hampir copot. Dan nafas memburu, dalam dinginnya hawa pegunungan yang berkadar oksigen rendah.

Namun, sungguh luar biasa pemandangan di puncak Jabbal Musa. Di ufuk Timur, matahari sedang beranjak memperlihatkan dirinya. Warna langit yang kuning kemerahan menjadi latar belakang puncak-puncak gunung di sekitarnya, diantara lembah dan ngarai yang tiada tara: Subhanallah...!

Di puncak itulah para peziarah mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Dalam bahasa agama masing-masing. Saya melihat ada dua tempat ibadah tak berapa besar yang bertengger di puncak Sinai, yaitu sebuah musholla dan gereja. Sebagian peziarah memanfaatkannya untuk berdoa. Sebagian lagi memilih di tempat terbuka sambil menikmati matahari terbit.

Saya memilih berdoa dan bersyukur di atas sebuah batu besar, yang dari tempat itu saya bisa melihat lembah sekeliling puncak Jabbal Musa. Saya membayangkan, disinilah dulu utusan Allah itu bermunajat kepada-Nya, berdialog langsung dengan-Nya. Dan ketika beliau meminta kepada Allah untuk bisa melihat Zat-Nya, bukit di sekitar puncak Jabbal Musa itu pun bergetar hebat, lantas runtuh membuat Nabi Musa pingsan karenanya.

Kini, saya menyaksikan bukit-bukit batu itu. Memang berbeda dengan bukit-bukit yang lebih jauh di sekelilingnya. Bebatuan di sekitar puncak Jabbal Musa itu terlihat pecah belah berantakan. Seperti pernah dilanda gempa..!

Saya menjadi ingat firman-Nya di dalam al Quran: ’’... Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung, maka gunung itu pun hancur dan Musa jatuh pingsan. Setelah tersadar, Musa berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman". [QS. 7: 143].

Bersambung besok: //Menyusuri Laut Merah ke Tempat Nabi Khidr//

HAMPIR PAGI: Perjuangan mencapai puncak Jabbal Musa.
TURUN GUNUNG: Istirahat sejenak diantara para peziarah yang antre turun gunung.
HANCUR: bukit tempat Nabi Musa pingsan setelah ingin melihat Allah.













dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat
sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu,
web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa
solat



EKSPEDISI SUNGAI NIL (28)

oleh Agus Mustofa pada 07 September 2010 jam 13:22

~ Menyusuri Laut Merah ke Tempat Nabi Khidr ~

dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat


Turun dari Jabbal Musa, kami sampai di penginapan pukul 10 pagi. Untuk menghilangkan lelah setelah mendaki gunung Sinai semalaman, saya beristirahat segera. Apalagi, setelah Zhuhur kami harus check out untuk melanjutkan perjalanan ke Sharm el Sheikh, sebuah kota di tepi laut merah yang masih berjarak sekitar 270 km ke arah selatan.   

Menuju ke Sharm el Sheikh, kami tidak melewati rute datang, melainkan mengambil rute selanjutnya. Kalau awalnya datang dari arah teluk Suez di sebelah timur, maka kini kami melanjutkan ke arah barat sehingga bertemu dengan pantai teluk Aqabah yang berseberangan dengan jazirah Arab. Setelah itu, berbelok ke kanan melewati kota Dahab, menuju ke ujung paling selatan dataran Sinai.

Kurang lebih 4 jam kami menyusuri pegunungan batu dan padang pasir. Separo perjalanan terakhir, kami menyusuri pantai teluk Aqabah yang berseberangan dengan negara Saudi Arabia. Pemandangan di kawasan ini tak kalah indah dengan pantai Timur, di Teluk Suez. Lebih dari 100 km kami menyusuri pantai yang bersebelahan dengan perbukitan batu yang indah. Di sebelah kanan, bukit dan padang pasir. Sedangkan di sebelah kiri, laut yang indah membiru.

Keindahan itu berujung di Sharm el Sheikh. Sebuah kota paling selatan dari dataran Sinai. Ia berada di tepi pantai Laut Merah yang luar biasa. Disinilah selat Aqabah bertemu dengan selat Suez. Di sebelah kanan kami adalah laut yang menjorok ke teluk Suez, dan sebelah kiri kami adalah laut yang menjorok ke teluk Aqabah. Kami persis berada di persimpangan dua laut itu.

Memasuki pintu gerbang kota sudah kelihatan pantai yang ramai dengan kapal-kapal pesiar. Disepanjang pantainya berdiri gedung-gedung yang megah, hotel, apartemen maupun villa bergaya Eropa. Kota yang memanjang searah pantai itu terbagi dalam 3 wilayah, yakni wilayah permukiman lama yang disebut sebagai Old Town.

Yang kedua adalah kawasan tepi pantai yang disebut Sharm el Moya. Disini terdapat hotel-hotel mewah, tempat-tempat hiburan malam, spa, pusat perbelanjaan, dan segala macam permainan yang disukai turis-turis Barat. Dan yang ketiga, adalah El Hadaba, kawasan yang dipenuhi dengan permukiman warga asing untuk berlibur, seperti villa, kondominium, dan apartemen. Berada di kota ini seperti berada di kawasan Eropa. Apalagi, yang kebanyakan berlalu lalang adalah para bule.

Kota Sharm el Sheik sudah jauh berubah dibandingkan tahun 80-an. Dulu daerah ini adalah sebuah desa nelayan yang kecil. Dan sempat menjadi kawasan yang diperebutkan antara Mesir dan Israel. Pernah diduduki Israel pada tahun 1956 dan 1967. Tetapi, kemudian dikembalikan ke Mesir pada tahun 1982, atas tekanan PBB dan dunia internasional. Sekarang kawasan yang sangat strategis ini menjadi pantai wisata nomer wahid di Mesir, bahkan di Timur Tengah.

Presiden Husni Mubarak sangat suka dengan tempat ini, sehingga sering menerima tamu-tamu negara atau menyelenggarakan pertemuan internasional disini. Bahkan, hampir setiap tahun, selama liburan Idul Fitri, ia dan keluarga memilih berada di Sharm el Sheikh. Sampai-sampai ada yang menyebut kota ini sebagai kota Mubarak. Meskipun pernah dibom oleh kalangan radikal Mesir di tahun 2005, kota ini mendapat julukan City of Peace.

Memasuki kota, saya berusaha mencari lokasi yang disebut oleh al Qur’an sebagai tempat bertemunya dua laut itu. Dari peta kami tahu, itu adalah kawasan yang kini bernama Ras Muhammad. Kawasan itu, benar-benar berada di paling ujung dataran Sinai. Bentuknya adalah tanjung yang menjorok ke laut.

Kawasan sepi ini, kini menjadi cagar alam kehidupan biota laut, yang sangat digandrungi oleh wisatawan dunia. Mereka senang menyelam di lepas pantainya, karena di dasar lautnya ada ribuan jenis ikan dan terumbu karang yang unik. Bahkan, ada kawasan yang terdapat gugusan karang berusia dua juta tahun, yang memberikan banyak informasi tentang kondisi alam masa silam. Tak kurang dari 50 ribu penyelam setiap tahunnya datang ke Ras Muhammad, Sharm el Sheikh. Daratannya memang sepi, karena kebanyakan turis langsung membawa kapalnya dari dermaga, menuju ke lepas pantai dimana mereka ingin menyelam.

* * *

Sore kemarin menjelang matahari tenggelam, saya berada di pantai tempat bertemunya dua laut itu. Lokasinya seperti yang digambarkan oleh al Qur’an. Benar-benar surprise, dan merasa seperti dalam mimpi. Disinilah, ribuan tahun yang lalu, dua hamba Allah bertemu untuk mempelajari salah satu rahasia ilmu Allah yang luar biasa tingginya, yaitu tentang kesabaran. Mereka adalah Nabi Musa sang Kalimullah dan Khidr, seorang misterius ’penunggu pantai’ yang tidak terkenal.

Allah menceritakan ini di dalam al Qur’an al Karim, ketika memerintahkan Musa untuk bertemu dengan guru spiritual, yang tak disebut namanya itu. ’’Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’’. [QS. 18: 60] ’’Lalu mereka bertemu dengan seseorang di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami’’. [QS. 18: 65]

Kenapa Musa yang hebat itu – memiliki sembilan buah mukjizat dan berbicara langsung dengan Allah di puncak Sinai – masih diperintah Allah untuk berguru kepada Khidr? Ternyata, Musa dianggap Allah belum memiliki kualitas kesabaran yang seharusnya. Apalagi, dalam menghadapi umatnya – Bani Israil – yang terkenal sangat cerewet dalam beragama.

Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" [QS. 18: 66]. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" [QS. 18: 67-68].

Mendalam sekali dialog dua hamba Allah itu. Musa yang sedemikian hebat diprediksi Khidr tidak akan bisa bersabar mengikutinya, karena ilmunya ’belum cukup’. Kesabaran, ternyata hanya bisa dilakukan jika seseorang memiliki ilmunya. Jika tidak, ia hanya bisa ’menyabar-nyabarkan’ diri belaka. Terpaksa sabar. Belum benar-benar bersabar. Dan terbukti, selama mengikuti Khidr, Musa sering protes kepadanya ketika Khidr melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak masuk akal.

Sesuatu dikatakan masuk akal atau tidak, bergantung kepada seberapa tinggi ilmu yang telah kita miliki. Karena itu, Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu dan mengedepankan akal sehat dalam menjalankannya. Hanya orang-orang yang berilmu dan berakal sajalah yang bisa menjalankan agama ini dengan baik, sehingga tercapai tatanan masyarakat yang rahmatan lil alamin yang sebenar-benarnya. ’’... Dan tidak bisa mengambil pelajaran (dari ilmu-ilmu Allah) kecuali orang-orang yang berakal. [QS. 3: 7]

Bersambung besok: //Mencegat Lailatul Qadr di Pantai Laut Mediterania//

dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat

PERBEDAAN ’BERAGAMA’ & ’BERILMU AGAMA’ ~

~ PERBEDAAN ’BERAGAMA’ & ’BERILMU AGAMA’ ~

oleh Agus Mustofa 
Tahukah Anda, apa beda orang yang melakukan proses BERAGAMA dibandingkan dengan sekedar BERILMU AGAMA? Yang paling mendasar adalah: orang-orang yang melakukan proses ’beragama’ akan mengalami perubahan AKHLAK menjadi lebih baik. Sedangkan yang melakukan proses ’berilmu agama’ hanya sekedar ’MENGETAHUI’ untuk memperoleh akhlak yang lebih baik.

Diantara tanda-tandanya adalah sebagai berikut:
  1. Orang yang ’beragama’ akan MENERAPKAN setiap petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam aktivitas sehari-harinya. Sedangkan yang ’berilmu agama’, hanya untuk memperoleh pengetahuan dan bergaya SOK PINTAR. Atau lulus ujian :(
  2. Orang yang ’beragama’ mengorientasikan ilmunya untuk mengubah PERILAKU, sedangkan yang ’berilmu agama’ untuk pamer hafalan Qur’an dan Hadits, dan memperoleh PENGAKUAN akan kehebatannya. Sehingga ketika Allah dan Rasul-Nya mengajari untuk ’JANGAN BERKATA KASAR’ misalnya, QS. 3: 159, dia mengatakan bahwa dia hafal ayat itu, sambil tetap berkata-kata kasar kepada siapa saja dengan pilihan kata yang menyakitkan orang-orang yang mendengarnya.
  3. Orang yang ’beragama’ menggunakan ilmunya untuk MENASEHATI orang-orang di sekitarnya dengan SEJUK, sedangkan yang ’berilmu agama’ mendatangi tetangga-tetangganya untuk MENANTANG BERDEBAT sambil menuding-nuding orang lain SALAH SEMUA, dan dirinyalah yang paling benar.
  4. Orang ’beragama’ menyikapi dengan TENANG atas berbagai perbedaan yang ada, karena memang itulah fitrah makhluk Allah: TIDAK ADA yang SAMA. Tetapi, orang yang ’berilmu agama’ menanggapinya dengan MENCAK-MENCAK, dan memaksa semua orang harus sama dengannya. Sementara Rasulullah SAW pun tidak pernah memaksa para sahabatnya untuk MENJIPLAK dirinya. Abu Bakar, Umar, Usman & Ali misalnya, tetap saja adalah pribadi-pribadi yang BERBEDA.
  5. Orang yang ’beragama’ tidak berani melakukan KLAIM kebenaran, karena kebenaran itu memang hanya milik Allah, QS. 16: 125, selebihnya relatif sebagai UPAYA untuk mendekatkan diri kepada SANG MAHA BENAR sambil memohon bimbingan-Nya, sebaliknya orang yang sekedar ’berilmu agama’ selalu melakukan klaim-klaim kebenaran berdasar ’kehebatannya’ tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan SUUDHON dengan mengatakan pendapat orang lain tidak berdasar al Qur’an, tidak valid, belum pernah diuji dan tidak pernah sekalipun didiskusikan. Sebuah kesimpulan yang ceroboh, dikarenakan hati yang EMOSIONAL.

Kawan-kawan, saya kira kita sepakat, bahwa kita sedang berproses untuk BERAGAMA bukan hanya sekedar ’berilmu agama’. Ilmu yang kita dapatkan bukan digunakan untuk BERDEBAT mencari kalah/ menang, tetapi untuk berproses memperbaiki AKHLAK yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan MENTAUHIDKAN Allah semata.

Sebuah ’kontroversi’ kadang diperlukan untuk MEMBANGUNKAN umat yang sudah telanjur ’TIDUR’ lama, dan MERASA dirinya sudah HEBAT dan BENAR. Padahal umat Islam yang dulu TELADAN itu kini sedang dalam kondisi MEMPRIHATINKAN di semua lini kehidupannya. Sebab utamanya adalah: kebanyakan kita tidak berproses untuk BERAGAMA melainkan sekedar BERILMU AGAMA.

Ilmu yang kita peroleh juga bukan untuk digunakan menuding-nuding orang lain yang berbeda dengan kita sambil menyebar VIRUS PERTENGKARAN, melainkan digunakan untuk MELEMBUTKAN HATI kita bersama dan membangun PERSAUDARAAN menuju kepada Allah Sang Maha Lembut.

Karena, Allah sungguh ’tidak suka’ kepada orang yang belajar agama hanya untuk pamer ilmu dan kesombongan, tanpa bisa mengubah akhlak kesehariannya. Kata Allah seperti keledai yang membawa kitab-kitab di punggungnya.

QS. Luqman (31): 19
Dan SEDERHANALAH kamu dalam berjalan dan LUNAKKAN SUARAMU. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

QS. Al Jumuah (62): 5
PERUMPAMAAN orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkan) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal...

QS. Ash Shaff (61): 2
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu MENGATAKAN apa yang tidak kamu PERBUAT?

QS. Al Baqarah (2): 44
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan DIRIMU SENDIRI, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?

Rabu, 22 September 2010

~ Merneptah, Firaun yang Tenggelam di Laut Merah

EKSPEDISI SUNGAI NIL (25)

oleh Agus Mustofa pada 04 September 2010 jam 11:36

~ Merneptah, Firaun yang Tenggelam di Laut Merah ~

dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat
sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu,
web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa
solat

Misteri besar yang masih belum terjawab tuntas adalah: siapakah Firaun yang bertarung melawan Musa, dan akhirnya mati tenggelam di Laut Merah itu? Karena, ternyata Ramses II yang merawatnya sejak kecil sudah meninggal dunia dalam usia tua.

Kematian Ramses II menyebabkan Merneptah naik tahta. Karena dialah anak laki-laki tertua yang masih hidup, setelah dua belas kakak laki-lakinya meninggal dunia sebelum masa pewarisan. Merneptah sudah berusia sekitar 50 tahun waktu diangkat sebagai Firaun. Hampir sebaya dengan Musa. Sebelumnya, dia adalah panglima perang Ramses II yang sangat terkenal. Dan menguasai ratusan ribu tentara.

Ketika berkuasa, Merneptah juga mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kelakuan sewenang-wenangnya tak jauh dari bapaknya. Jika nama Ra Mses bermakna keturunan Dewa Matahari (Ra), maka nama Merne Ptah bermakna Kesayangan Dewa Pencipta (Ptah). Merneptah mengendalikan kekuasaannya secara diktator militer. Dia biasa menghukum siapa saja yang berani menentangnya, dan tak segan-segan membunuhnya dengan cara menyiksa terlebih dahulu.

Al Qur’an menggambarkan, Nabi Musa merasa menciut nyalinya ketika diperintahkan Allah untuk menemui penguasa negeri Mesir itu. ’’Pergilah kepada Firaun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,’’ [QS. 20: 24-25]

Maka, Musa meminta izin kepada Allah agar Harun yang masih saudara sepupunya diperbolehkan menemani dalam berdakwah. Apalagi, untuk menghadapi Firaun dengan balatentaranya yang terkenal bengis itu. ’’Sungguh, aku akan memotong tangan dan kakimu bersilangan secara timbal balik, kemudian sungguh aku akan menyalib kamu semuanya." Demikian ancam Firaun kepada siapa saja yang berani menentangnya.

Termasuk kepada para tukang sihir yang terbukti kalah melawan Musa, dan lantas memberikan pengakuan bahwa Musa benar-benar seorang utusan Tuhan. Apa yang dibawa Musa bukanlah sihir, melainkan mukjizat. Maka, bertambah murkalah sang Firaun. Dia pun mengobarkan permusuhan kepada Bani Israil secara lebih keras. Bukan hanya membunuhi anak lelakinya, tetapi menyiksa dan menumpas bani Israil.  Pertarungan antara Musa dengan Firaun itu berjalan sekitar 10 tahun, yaitu selama masa pemerintahan Merneptah (1213 – 1203 SM).

Di zaman Merneptah inilah kemudian bangsa Israil diusir dari Mesir. Data ini terdapat di Museum Mesir, Kairo. Tertulis dalam huruf Hiroglif di sebidang batu granit yang dinamakan Prasasti Merneptah atau Israel Stela. Inilah satu-satunya prasasti yang menyinggung tentang Bani Israil dalam artefak para Firaun yang berkuasa sepanjang ribuan tahun, sebanyak 30 dinasti.

Tak tahan menghadapi kebrutalan Firaun dan balatentaranya, Musa mengajak seluruh Bani Israil untuk eksodus besar-besaran menuju Palestina. Yang paling dekat adalah menyeberangi laut, di teluk Suez. Ada 3 pendapat utama tentang lokasi penyeberangan ini. Yang pertama adalah di danau Ballah, yang posisinya dekat Laut Mediterania dibandingkan Laut Merah. Jaraknya lebih dari 150 km dari Memphis.

Yang kedua adalah danau Timsah  yang berjarak sekitar 120 km. Dan yang ketiga adalah ujung teluk Suez yang berjarak tidak sampai 100 km. Saya lebih condong alternatif yang ketiga ini, yaitu di ujung teluk Suez yang masih terhubung secara langsung dengan Laut Merah.

Ada alasan kuat yang mendasarinya. Yaitu, rombongan Musa sedang dikejar-kejar oleh tentara Firaun, dan mereka sedang berusaha sesegera mungkin untuk mencapai pantai. Karena, menurut QS. 20: 77 Musa dan rombongannya memang diperintahkan untuk berangkat pada malam hari menuju pantai, dan baru tersusul di pagi hari. Maka yang terdekat adalah teluk Suez. Ayat itu menyebut laut sebagai tempat penyeberangan, bukan danau.

Selain itu, perjalanan ratusan ribu orang ini dilakukan dengan berjalan kaki. Tentu, mereka memilih jarak yang terdekat. Dan pada pagi hari mereka segera tersusul oleh pasukan Firaun. Jika kecepatan berjalan mereka sekitar 15 km/ jam maka rombongan ini sampai di pantai sekitar 6-7 jam. Sudah memasuki waktu  pagi.

’’Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sungguh Tuhanku besertaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku". [QS. 26: 61-62]
Dan benarlah apa yang menjadi keyakinan Musa. Allah memberikan pertolongan di luar dugaan. Karena, dia sendiri sebetulnya tidak tahu harus melakukan apa saat rombongan Bani Israil sampai ke tepi pantai, sementara tentara yang dipimpin Firaun sudah kelihatan semakin mendekat.

Maka Allah memerintah Musa untuk memukul laut dengan tongkat yang dibawanya. Seketika itu bumi bergetar, diperkirakan terjadi gempa tektonik yang menyebabkan terjadinya Tsunami. Air laut pun surut beberapa saat, sehingga memberi kesempatan kepada rombongan Musa untuk menyeberang. Tetapi, malang menghadang pasukan Firaun. Mereka yang sedang mengejar Bani Israil itu digulung oleh ombak menggunung yang datang kemudian.

’’ Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (Musa), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.’’ [QS. 2: 50].

* * *

Musa, sang utusan Allah, akhirnya bisa mengalahkan Firaun. Penguasa yang mengaku dirinya sebagai Tuhan itu pun tenggelam bersama ribuan tentara yang dikerahkan untuk membasmi Bani Israil. Allah menyelamatkan jasadnya untuk dijadikan pelajaran bagi umat yang hidup kemudian.
’’Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.’’ [QS. 10: 92]

Jenazah Firaun diketemukan beberapa hari kemudian oleh masyarakat di tepi pantai, dan lantas diserahkan kepada pihak kerajaan. Keganasan Firaun Merneptah pun runtuh dalam sepuluh tahun kekuasaannya. Jasadnya dimumifikasi, dan dikubur di Lembah Raja, di makam keluarga KV-5. Kini muminya bisa disaksikan di Museum Mesir, Kairo, dibaringkan berdekatan dengan ayahnya, Ramses II.

Tetapi menariknya, warna kulit mumi Merneptah berbeda dibandingkan dengan mumi-mumi lainnya. Mumi Firaun yang satu ini berwarna pucat keputih-putihan. Diduga, karena jenazahnya terendam air laut selama beberapa hari, saat tenggelam di Laut Merah..!

Bersambung besok: //Dipukul Tongkat Musa, Batu Menyemburkan Air//

Tempat penyeberangan Musa, kini menjadi tempat berlalu lalangnya kapal-kapal besar.
dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat
sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu,
web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa
solat

EKSPEDISI SUNGAI NIL (26)

oleh Agus Mustofa pada 05 September 2010 jam 14:24

~ Tongkat Musa, dan Perjuangan Membimbing Umatnya ~

Menyeberangi Teluk Suez kami memasuki benua Asia. Namun, karena masih berdekatan dengan benua Afrika, suasananya tak terlalu jauh berbeda. Sepanjang mata memandang terlihat gurun pasir yang tandus, berhias bukit-bukit batu. Inilah kawasan Gurun Sinai yang terkenal itu. Sinai utara penuh dataran padang pasir, Sinai selatan penuh dengan perbukitan batu.

Untuk menyeberanginya kami tidak perlu mengunakan kapal Feri, tetapi menggunakan terowongan bawah laut sepanjang 1,5 km. Ini adalah jarak penyeberangan yang paling dekat antara benua Afrika dan Asia. Diperkirakan di sekitar daerah ini pula Musa melakukan penyeberangan saat dikejar Merneptah. Tempat penyeberangan Bani Israil itu kini menjadi tempat lalu lalangnya kapal-kapal berukuran besar dari kawasan Eropa menuju Asia ataupun sebaliknya.

Keluar dari terowongan kami menyusuri pantai untuk menuju gunung Sinai atau yang dikenal juga sebagai Jabbal Musa. Jaraknya sekitar 415 km dari Kairo. Atau sekitar 300 km dari terowongan Teluk Suez. Pemandangan di kanan kiri kami sangat kontras, namun indah luar biasa. Di sebelah kiri, kami menyaksikan perbukitan batu yang kering kerontang. Tapi di sebelah kanan kami adalah laut luas yang membiru. Ya, kami sedang menyusuri pantai Teluk Suez ke arah selatan.

Kawasan Sinai sangat bersejarah karena menjadi saksi berbagai peristiwa eksodusnya Bani Israil dari negeri Mesir. Sebelum memasuki Palestina yang menjadi tujuan akhir mereka, Bani Israil sempat bertahun-tahun berada di kawasan tandus ini. Banyak kejadian-kejadian menarik yang menyertai perjalanan Bani Israil itu.

Setelah keberhasilan Musa memimpin Bani Israil keluar dari Mesir, Musa bersama umatnya menuju ke Gunung Sinai. Musa ingin bermunajat dan bersyukur kepada Allah atas perlindungan yang diberikan-Nya. Dan mohon bimbingan untuk membawa umatnya ke tanah harapan, yaitu Palestina.

Musa meninggalkan Bani Israil di kaki Sinai, dalam pimpinan saudaranya, Nabi Harun. Ia berjanji akan pulang setelah 30 hari bermunajat di puncak Sinai. Maka, Musa pun berpuasa selama 30 hari untuk mensucikan jiwa raganya, agar bisa kerkomunikasi dengan Allah lebih jernih. Ternyata, Allah memerintahkan untuk menyempurnakan puasanya menjadi 40 hari. Lantas, Musa memperoleh wahyu Taurat bagi umatnya.

Digambarkan Musa berdialog langsung dengan Allah, sehingga dia memperoleh julukanKalimullah di dalam al Qur’an, yakni orang yang diajak bicara langsung oleh-Nya. ’’Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu diantara manusia yang lain, untuk membawa risalah-Ku. Dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. Karena itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu. Dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". [QS. 7: 144].

Sayang, sepulang Musa dari Puncak Sinai, kaumnya justru terpengaruh ajakan Samiri untuk beribadah mengikuti agama pagan lagi. Mereka menyembah patung sapi, buatan Samiri, yang juga salah satu kaum Musa. Dengan alasan, Musa hilang di puncak Sinai. Dan Tuhan Musa adalah kebohongan semata, karena tidak bisa dilihat. Tuhan yang benar, adalah seperti yang telah mereka kenal selama di Mesir, yaitu Dewi Hathor yang bertanduk sapi, dan Apis sang Dewa Sapi.

Tentu saja Musa marah dan sedih bukan main. Dihajarnya Samiri, dan dilemparkannya patung Sapi itu. Bahkan Nabi Harun pun dipegang kepalanya, hendak dihajar juga. Namun, Harun bisa menenangkan kembali Musa. Dan menjelaskan bahwa keterlambatan Musa pulang menyebabkan Samiri bisa mempengaruhi Bani Israil yang lemah iman untuk kembali ingkar.

Bukan hanya itu, Bani Israil pun lantas meminta Musa untuk menunjukkan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang bisa terlihat. Tentu saja Musa gemetar, karena sesungguhnya ia baru melakukan permintaan yang sama kepada Allah ketika sedang di puncak Sinai. Saat itu, bukit tempat dia berpijak bergetar hebat, dan bebatuan di sekitarnya hancur berantakan. Dan, Musa pingsan.

Kini, permintaan itu juga diucapkan oleh umatnya, dan kemudian Allah menunjukkan Kekuasaan-Nya lagi dengan menurunkan halilintar. ’’Dan (ingatlah), ketika kalian (bani Israil) berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas", karena itu kalian disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.’’ [QS. 2: 55].

Setelah bisa menguasai kembali umatnya, Musa mengajak mereka untuk menuju ke Palestina. Itulah tanah yang dijanjikan bagi bani Israil untuk bermukim dengan tenang. Tetapi, saat itu Palestina sedang dalam kekuasaan bangsa lain, yang tidak menghendaki Bani Israil bermukim di dalamnya. Padahal, sebenarnya mereka memiliki hak atas tanah Palestina, karena nenek moyang mereka dari kawasan ini.
Musa mengajak mereka untuk menuntut hak itu, meskipun untuk itu harus berperang. Sayang, sebagian besar Bani Israil tidak mau melakukannya. Mereka justru ketakutan, dan memilih untuk mengembara di sekitar gurun Sinai, yang dikenal sebagai Padang Tiih. Kisah itu diceritakan panjang lebar dalam QS.5: 21-26.

’’Allah berfirman: (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan) orang-orang yang fasik itu.’’ [QS. 5: 26]

Maka, menderitalah Bani Israil selama empat puluh tahun di Gurun Sinai. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu kawasan ke kawasan yang lain. Untungnya Allah masih sangat pemurah kepada mereka. Sehingga mereka memperoleh makanan yang ada di daerah tandus itu. Diantaranya yang diterangkan oleh al Qur’an adalah Manna dan Salwa, yaitu sejenis madu dan burung puyuh. Dengan makanan itu, mereka memperoleh sumber karbohidrat, protein dan lemak untuk kehidupannya.

Mereka juga menyuruh Musa untuk memintakan air kepada Allah, dengan cara yang memojokkan. Kalau seandainya Tuhan Musa benar-benar ada, maka mereka minta diberi sumber air di padang tandus itu. Dengan sabar, Musa memintakannya kepada Allah. Dan kemudian, dia diperintah Allah untuk memukulkan tongkatnya ke bebatuan. Maka, menyemburlah mata air-mata air dari pecahan bebatuan itu. Jumlahnya 12 buah,  sebanyak suku Bani Israil yang menjadi umat Nabi Musa. Mata air yang dikenal sebagai Uyun Musa ini, masih bisa dilihat bekasnya di padang pasir Sinai.

Bukan hanya itu, mereka kemudian meminta lagi dengan cerewetnya, agar Musa memintakan kepada Tuhannya: segala macam sayuran, buah-buahan, rempah-rempah dan segala macam yang mereka butuhkan, sehingga membuat Musa marah. Padahal, kata Musa, mereka bisa memperoleh itu di kota-kota terdekat, karena tak mungkin mendapatkannya di gurun Sinai yang tandus.

Akhirnya, Musa memutuskan untuk bersabar dalam membimbing umatnya. Ia menunggu Bani Israil sampai melahirkan generasi berikutnya. Pelajaran sabar itulah yang ia peroleh dari Nabi Khidr, ketika Allah memerintahkkan untuk berguru kepadanya. Empat puluh tahun kemudian, Musa berhasil mendidik generasi muda Bani Israil untuk berjuang memasuki negeri harapan, yakni Palestina. Sayang ia terburu meninggal dunia, sebelum Bani Israil berhasil masuk ke kota suci itu...!

Bersambung besok: //Mendaki Gunung Sinai di Waktu Sahur//

dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat

UYUN MUSA: sumur tua di gurun Sinai yang dipercaya sebagai salah satu sumber mata air Bani Israil.
dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat

Selasa, 21 September 2010

~ Kubah Timah Putihnya Berpendar di Langit Kairo ~

EKSPEDISI SUNGAI NIL (23)

oleh Agus Mustofa pada 02 September 2010 jam 13:00
~ Kubah Timah Putihnya Berpendar di Langit Kairo ~

dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat
sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu,
web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa
solat

Ada satu ikon kota Kairo yang selalu menghiasi buku-buku panduan para turis. Yaitu, Masjid Muhammad Ali Pasha. Masjid yang berada di dalam benteng Shalahuddin itu sungguh Indah. Kubahnya yang berlapis timah putih berpendar di langit Kairo, terlihat dari berbagai penjuru kota. Apalagi posisi benteng itu memang berada di kawasan Bukit Muqattam yang tinggi.

Masjid yang didirikan tahun 1830 di zaman sultan Ali Pasha itu, kini sudah berusia 180 tahun. Dibangun oleh arsitek dari Turki kelahiran Bosnia, Yusuf Bushnak. Desainnya mengadaptasi bangunan-bangunan Romawi dan Eropa modern. Lokasinya dipilih di bagian tertinggi dari Benteng Shalahuddin, sehingga perlu menghancurkan dua bangunan bekas istana Mamluk yang pernah berkuasa di Mesir.

Shalat jumat di masjid tersebut memberikan suasana yang berbeda. Saya sengaja datang pada hari Jumat, karena masjid ini tidak digunakan untuk shalat 5 waktu lagi. Hanya seminggu sekali. Ruang masjidnya luas, dengan desain akustik yang memukau. Gema suara di dalam masjid didesain sedemikian rupa, sehingga muadzin yang mengumandangkan azan tanpa pengeras suara pun, suaranya sudah terdengar cukup jelas. Apalagi ketika khatibnya berkhutbah dengan mikrofon, suaranya bergema megah.

Desain konstruksinya juga hebat. Kubah setinggi 52 meter yang megah itu hanya disanggah empat tiang dengan bentangan yang lebar, lebih dari 25 meter. Apalagi, kubah tersebut di bagian dalamnya masih dibebani dengan lampu gantung khas Eropa yang berbobot lebih dari 2 ton. Membuat kawan saya yang berpendidikan Teknik Sipil berdecak kagum mengamatinya. Di bagian luar, dibangun menara-menara setinggi 82 meter.

Kubah itu, bukan hanya indah dilihat dari luar, melainkan juga dari dalam. Selain ornamennya yang sangat indah, kubah utamanya disanggah oleh empat kubah yang lebih kecil berbentuk setengah lingkaran sebagai penyanggah beban kubah utama. Disinilah kecerdikan sang perancang, dia bisa memadukan antara kebutuhan artistik dengan kekuatan konstruksi.

Di pojok-pojok pertemuan antar kubah utama dan kubah pendukung dibuat tulisan kaligrafi nama-nama Khalifah di zaman Khulafaurrasyidin: Abu Bakar, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan di bagian atas Mihrab bertuliskan Allah dan Muhammad Rasullah.

Warna Hijau dan emas mendominasi dekorasi interior masjid. Berpadu dengan batu onyx dan marmer putih bergurat-gurat coklat. Dikombinasi dengan karpet merah menyala, sungguh sangat indah. Sebuah masjid dengan desain modern yang berselera tinggi, cerminan citarasa Sultan Ali Pasha yang ingin menampilkan Islam Mesir dalam wajah modern.

Ali Pasha memang bukan orang Mesir asli. Dia seorang Albania asal Kavalla yang datang ke Mesir sebagai panglima pasukan Turki utusan Dinasti Usmani. Dia dikirim untuk membantu rakyat Mesir melawan pasukan Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte yang menjajah Mesir.

Keberhasilannya memukul mundur tentara Napoleon, mengantarkan Ali Pasha menduduki jabatan gubernur Mesir. Dia didukung oleh rakyat dan memperoleh restu ulama-ulama al Azhar. Maka, sejak itulah dia merintis Dinasti Muhammad Ali Pasha yang menjadi kerajaan terakhir di Mesir. Ali Pasha berkuasa di Mesir pada tahun 1805 – 1849, selama 44 tahun.

Pemerintahannya bergaya militeristik. Untuk menstabilkan situasi dalam negeri, Ali Pasha membasmi petinggi-petinggi Mamluk yang menguasai Mesir generasi sebelumnya. Ratusan petinggi mereka diundang makan di istana, dan kemudian dihabisi tanpa ada yang tersisa. Konon, tak kurang dari 500 orang.

Sultan yang kontroversial ini mengembangkan Mesir Modern dengan dibantu anaknya, Ibrahim Pasha. Dibawah kendali mereka kekuasaan Mesir meluas sampai ke Syria, Palestina, Yaman, Saudi Arabia; bahkan hingga Oman, Iraq, dan Bahrain. Ia bercita-cita membuat Imperium Islam baru menyaingi Dinasti Usmani, Turki yang mengutusnya. Tetapi, akhirnya ia bisa ditekan oleh Turki yang bersekutu dengan Inggris dan Perancis. Sejak itulah, intervensi dunia Barat mengalir masuk ke Mesir hingga kini.

Di zaman dinasti Ali Pasha Mesir berkembang dengan berorientasi ke Barat, khususnya Eropa. Dan lebih khusus lagi Perancis. Ia banyak mengirim pelajar-pelajar untuk bersekolah di Eropa. Dia juga melakukan berbagai kerjasama ekonomi dan perdagangan, pengembangan sistem administrasi pemerintahan, arsitektur, seni budaya, dan konstruksi bangunan.

Di zaman Muhammad Ali pula Mesir membangun bendungan-bendungan baru, memperbaiki kanal-kanal pengairan dari sungai Nil, dan menumbuhkan sektor pertanian. Ia memberikan perhatian lebih pada komoditas kapas dan tebu. Dan tentu, ia lantas memperkuat armada militernya, sehingga sangat disegani di kawasan Timur Tengah.

Ketika wafat, keturunannya meneruskan kebijakan untuk membawa Mesir ke Western-minded. Di zaman Said Pasha, Mesir membangun terusan Suez bekerjasama dengan Inggris dan Ferdinand de Lesseps dari Perancis. Kanal strategis ini menjadi salah satu sumber pemasukan yang signifikan, yang kelak menjadi rebutan antara ketiga negara pengelola. Sampai kini, terusan Suez menjadi jalur kapal-kapal besar yang berlalu lalang antara Laut Mediterania dan Laut Merah.

Dinasti Muhammad Ali Pasha runtuh di zaman Raja Farouq, tahun 1952. Raja yang terkenal hidup mewah itu dikudeta oleh rakyat Mesir dibawah pimpinan Jenderal Muhammad Najib dan Gamal Abdul Nasser, yang kemudian mereformasi pemerintahan Mesir menjadi Republik pada tahun 1953, hingga sekarang. Sedangkan Raja Farouq diasingkan ke Monaco sampai meninggalnya. Ia yang memiliki bobot 140 kg itu meninggal di atas meja makan, saat jamuan di Roma Italia, dalam usia 45 tahun..!

* * *

Begitu banyak kisah yang dihamparkan Allah di sekitar kita. Ada yang baik dan ada yang buruk. Semua mengandung pelajaran bagi kita agar menjadi orang yang lebih baik ke masa depan. Orang sukses adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya untuk selalu berbuat baik. Itulah yang di dalam al Qur’an disebut sebagai orang yang bertakwa. Sedangkan orang zalim adalah mereka yang tak mampu mengendalikan dorongan hawa nafsunya, sehingga mencelakakan dirinya sendiri, di dunia maupun di akhirat.

’’Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan? Dan Allah membiarkannya tersesat berdasarkan ilmu-Nya. Dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya, serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?’’ [QS. 45: 23]

Bersambung besok: Tangannya Bergerak Setelah 3.127 Tahun Jadi Mumi
Masjid Muhammad Ali Pasha, di dalam benteng Shalahuddin.
dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat
sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu,
web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa
solat


EKSPEDISI SUNGAI NIL (24)

oleh Agus Mustofa pada 03 September 2010 jam 13:00

~ Tangannya Bergerak, Setelah 3.127 Tahun Jadi Mumi ~





Sejak kemarin kami menyimpang dari jalur sungai Nil menuju Gurun Sinai, untuk napak tilas kisah Nabi Musa. Dialah musuh besar Firaun yang diceritakan oleh agama-agama Ibrahim di dalam kitab Taurat, Injil dan Al Qur’an. Utusan Allah yang terlahir di zaman Ramses II ini sangat banyak diceritakan di dalam kitab suci sebagai ’petarung tangguh’ yang diutus Tuhan untuk menghentikan keganasan Firaun.

Sejak dari Abu Simbel di perbatasan Sudan sampai Kairo, sebenarnya tim Ekspedisi sudah menempuh sekitar 85 persen panjang sungai Nil. Tidak jauh lagi, kami akan sampai di Alexandria sebagai muaranya. Jaraknya hanya tinggal 250 km. Tetapi, selama beberapa hari ke depan, kami sengaja tidak melanjutkan perjalanan menyusuri sungai ke arah muara, melainkan menyimpang ke timur menyeberang Teluk Suez terlebih dahulu.

Ada beberapa agenda yang ingin kami telusuri, terkait dengan kisah eksodus Bani Israil dari Mesir. Dan ini terkait erat dengan berbagai situs Mesir kuno yang bercerita tentang Firaun di sepanjang sungai Nil. Dengan mengembangkan penelusuran ini, saya harapkan pembaca akan memperoleh gambaran lebih utuh tentang kisah Firaun vs Musa.

Dimanakah Musa dilahirkan? Dimana dia dibesarkan? Dimana pula dia melakukan penyeberangan saat dikejar oleh Firaun? Siapakah Firaun yang tenggelam di Laut Merah: Ramses II ataukah Firaun yang lain? Dan seterusnya, termasuk saya akan mendaki gunung Sinai untuk merasakan suasana saat Nabi Musa menerima wahyu Taurat di Jabbal Musa.

Dan kemudian, kami akan mengakhiri napak tilas kisah Musa ini di kota Sharm El Sheikh, dimana Musa bertemu dengan manusia misterius, Khidr, yang sempat menjadi guru spiritualnya. Perjalanan menyusur kawasan Sinai menempuh jarak lebih dari 1000 km, sampai balik lagi ke lembah Nil di dekat Delta, untuk melanjutkan Ekpedisi ke muaranya di laut Mediterania.

Tidak seperti biasanya yang hanya bercerita secara deskriptif, setidak-tidaknya dalam dua tulisan hari ini dan besok, saya akan memberikan sedikit analisa untuk menyambungkan cerita secara utuh tentang kisah Musa vs Firaun. Selebihnya, saya akan menuangkan cerita perjalanan spiritual ini dalam bentuk buku yang insya Allah, akan saya terbitkan bulan depan.

Sempat saya singgung ketika bercerita tentang kota Fayoum, bahwa kawasan subur itu pernah menjadi permukiman orang Yahudi alias Bani Israil, yakni sejak zaman nabi Yusuf. Disanalah istana Qarun berada. Dan di sekitar kawasan itu pula Nabi Musa dilahirkan.

Kalau kita lihat dalam peta sungai Nil, maka kota ini berada sebelum kota Memphis, yang kala itu sudah tidak menjadi ibukota kerajaan Firaun lagi. Ibukota di zaman Ramses II sudah berpindah ke Luxor. Tetapi, kota Memphis masih menjadi kota metropolitan sampai ribuan tahun berikutnya. Sehingga, lazim para raja memiliki istana musim panas di kawasan dekat delta sungai Nil itu. Termasuk Ramses II. Dan, tidak heran pula di museum Memphis bertengger patung Ramses II dalam ukuran raksasa.

Saat Musa dilahirkan, Ramses II sudah berusia diatas 54 tahun. Dan sudah mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Kalau kita telusuri sejarahnya, Ramses II diangkat sebagai Firaun pada usia 24 tahun. Ia sudah sepenuhnya mengendalikan Mesir dalam waktu dua puluh tahun pertama. Dan kemudian, mengangkat dirinya sebagai Tuhan, setelah 30 tahun berkuasa.

Setelah itulah Musa terlahir dari rahim seorang wanita Bani Israil sebagai keturunan keempat dari Nabi Ya’kub. Musa sezaman dengan Qarun, familinya, yang bekerja pada Ramses II sebagai penjilat. Kelahiran Musa membuat Firaun gusar. Sebab, para penasehat spiritualnya mengatakan bahwa akan lahir bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil yang kelak akan mengalahkan kekuasaan Firaun. Ia pun memerintahkan untuk membunuhi bayi laki-laki dari Bani Israil [QS. 2: 49].

Tapi, bayi Musa diselamatkan oleh Allah dengan cara yang sangat istimewa. Ibu Musa memperoleh ilham dari Allah, untuk menghanyutkan bayinya di aliran sungai Nil. Dan atas kehendak-Nya, bayi yang ditaruh di keranjang bayi itu ’berlabuh’ di istana Firaun di Memphis. Saat itu, kemungkinan besar Nefertari, istri yang paling dicintai Firaun sedang berada di taman pinggiran sungai Nil. Ia melihat sang bayi lucu itu, dan jatuh hati kepadanya.

Diambilnya keranjang berisi bayi itu, dan ia meminta kepada Firaun untuk tidak membunuhnya. Tetapi, memelihara bayi laki-laki berkulit putih yang jelas-jelas bukan dari kaum Firaun tersebut [QS. 28:9]. Ramses tak mampu menolak permintaan sang isteri tercinta. Apalagi, Nefertari pernah kehilangan anak laki-laki Amunherkhepseshef, yang meninggal saat masih remaja. Padahal dialah pangeran utama yang digadang-gadang akan menggantikan kekuasaan Ramses II.

Perlindungan Allah terus berlanjut kepada Musa. Bayi itu tidak mau disusui oleh siapa pun. Dan hanya mau diberi air susu ibunya yang jelas-jelas berwajah Bani Israil. Tetapi hati Firaun luluh oleh permintaan isteri tercintanya. Sehingga dalam sebuah sayembara, ibu Musa terpilih sebagai pengasuh yang menyusui dan memelihara Musa sampai masa kanak-kanaknya berakhir. [QS. 28: 12].

Singkat cerita, Nabi Musa yang musuh besar Firaun dibesarkan di dalam istana Firaun sendiri. Sampai suatu ketika ia menjadi pemuda dan membunuh orang Qibthi alias orang Mesir asli, yang sedang berkelahi dengan seorang pemuda Bani Israil. Maka, Firaun pun tak mampu menahan diri untuk menghukum Musa. Dia geram kepada Musa, pemuda Bani Israil yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun, tetapi tetap menunjukkan pembelaannya kepada Bani Israil yang dibenci Firaun.

Musa pun melarikan diri meninggalkan kota Memphis, menuju negeri Madyan, di timur negeri Mesir. Disana, Musa diambil menantu oleh Nabi Syuaib sekaligus belajar agama kepadanya, selama sepuluh tahun atau lebih.[QS.28: 27]. Menjelang usia empat puluh tahun, Musa bersama keluarganya meninggalkan negeri Madyan menuju ke Mesir. Di tengah jalan, di sekitar gunung Sinai, Musa melihat api di sebuah bukit. Dia pun mendaki bukit itu. Ternyata, disana dia menerima perintah dari Allah untuk menghentikan kesewenang-wenangan Firaun, serta mendakwahkan agama Tauhid. Allah pun membekalinya dengan beberapa mukjizat.

Sebelum kedatangannya ke negeri Mesir itulah, Firaun Ramses II meninggal dunia. Beberapa tahun terakhir sebelum kematiannya, Ramses menderita sakit komplikasi yang menyiksanya. Kekuasaannya tidak lagi efektif, sehingga pemerintahannya dikendalikan oleh anaknya, Merneptah, yang sekaligus panglima perangnya. Ramses II meninggal dunia dalam usia 97 tahun, dan dimakamkan di Lembah Raja. Sayang, makamnya dibobol pencuri harta Firaun. Dan muminya sempat tidak jelas keberadaannya.

Baru pada tahun 1881, mumi Ramses II diketemukan oleh para arkeolog di sekitar Lembah Raja, untuk dipindahkan ke Museum Mesir di Kairo. Tapi yang mengerikan, ketika kain kafan mumi itu dibuka, tangan kiri Firaun bergerak terangkat dari posisi silang di depan dadanya. Ia menunjukkan ekspresi terakhirnya saat meregang nyawa. Entah apa yang menyebabkan, tangan sang mumi masih bisa bergerak setelah lewat 3.127 tahun dari saat kematiannya..!

Bersambung besok: //Siapakah Firaun yang Tenggelam di Laut Merah?//

Ramses II, kekuasaannya berakhir di usian 97 tahun.
Sungai Nil Memphis dimana bayi Musa dihanyutkan.
dons" title="Ebook islam, shalat sempurna, cara shalat nabi, shalat berjamaah di masjid, shalat khusyu, web islam, jadwal waktu shalat, artikel islami, makna bacaan dan doa salat">Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat