Sabtu, 27 November 2010

~ SALAH KAPRAH TENTANG ‘ISRA’ MI’RAJ’ ~

Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat



Ada kesalahkaprahan yang sudah terjadi berabad-abad, dan sebagian besar kita mendiamkannya saja. Yang saya pun sejak kecil ternyata menikmatinya. Dan kemudian dengan senangnya ikut menceritakan kisah itu kepada kawan-kawan sepermainan saya. Yakni tentang kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW.

Kisah yang saya dengar sejak kecil itu kurang lebih begini. Pada suatu malam Rasulullah melakukan perjalanan yang sangat hebat dari Mekah ke Palestina dengan mengendarai Buraq. Itulah sebuah kendaraan yang mirip hewan. Besarnya antara keledai dan kuda. Punya sayap untuk terbang, yang sekali melesat bisa mencapai jarak sejauh mata memandang. Dan kepalanya berbentuk manusia. Berwajah wanita cantik.

Sesampai di Palestina, Buraq itu ditambatkan di depan masjid al Aqsha. Kemudian Nabi Muhammad bersama malaikat Jibril melanjutkan perjalanan ke langit ke tujuh. Mereka berdua naik dengan menggunakan tangga menuju ke langit yang digambarkan seperti sebuah atap, alias langit-langit. Disana ada penjaganya, yaitu malaikat.

Setiap Nabi dan Jibril sampai di batas lapisan langit mereka mengetuk pintu langit, dan kemudian dari balik pintunya sang penjaga bertanya: siapakah yang datang dan mau kemana? Dijawab, yang datang adalah Jibril dan Muhammad, maka mereka dipersilakan masuk dan meneruskan perjalanan ke langit yang lebih tinggi.

Begitulah yang terjadi di setiap perbatasan langit. Selalu bertemu dengan pintu dan penjaganya, dan kemudian ditanya keperluannya. Sehingga sampailah mereka berdua ke langit yang tertinggi ~ langit ke tujuh ~ tempat keberadaan Sidratul Muntaha. Di tempat itulah Rasulullah bertemu dengan Allah. Dan Jibril tidak bisa masuk ke bagian yang paling dalam, yang bernama Mustawa.

Disana pula Rasulullah menerima perintah shalat lima waktu, dengan cara tawar menawar atas saran Nabi Musa yang berada di langit ke 6. Semula perintah shalat itu sebanyak 50 waktu. Tetapi, nabi Musa mengatakan umat Muhammad tidak akan mampu melaksanakan. Karena itu, Musa menyarankan agar Nabi Muhammad naik lagi ke langit ke tujuh untuk meminta keringanan.

Lantas diceritakan, Allah memberikan potongan menjadi 45 waktu. Beliau turun ke langit ke 6, Nabi Musa menyuruh Rasulullah kembali untuk meminta keringanan menjadi 40, dan berkali-kali, sampai akhirnya tinggal 5 waktu: Maghrib, Isya, Subuh, Zhuhur, Ashar. Barulah kemudian Nabi turun ke bumi. Begitulah ngaji saya waktu kecil...

Ketika beranjak dewasa, cerita Isra’ Mi’raj sangat 'mengganggu' pikiran saya. Karena banyak hal yang sulit saya terima secara akal sehat. Disaat saya sedang getol-getolnya mencari substansi beragama. Apalagi, saya memiliki ketertarikan kepada sains, dimana saya belajar tentang Fisika Modern.

Muncul pertanyaan dalam benak saya tentang mekanisme perjalanan malam yang sangat menghebohkan itu.
  1. Saya merasa yakin, bahwa perjalanan itu benar-benar terjadi. Karena, yang bercerita adalah Allah sendiri di dalam al Qur’an.
  2. Tetapi benarkah beliau naik Buraq yang dipersepsi sebagai hewan sepertikuda yang bersayap, dan apalagi berkepala manusia, wanita cantik? Apakah ini bukan malah pelecehan, sebagaimana karikatur yang melecehkan Nabi yang dimuat media Barat beberapa tahun lalu? Kenapa kita malah menggambarkan perjalanan itu demikian ’karikaturis’? Bisakah kita menggambarkan perjalanan hebat itu dengan mekanisme yang berbeda, tanpa menghilangkan substansinya?
  3. Benarkah Rasulullah naik ke langit yang bentuknya seperti langit-langit? Sementara ilmu pengetahuan modern mendapati bentuk langit bukanlah seperti atap, melainkan berupa ruang. Dan kemudian beliau ’bertemu’ Allah di langit ke tujuh. Benarkah penggambaran seperti ini: bahwa Allahberada di langit ke tujuh, dan kemudian digambarkan sebagai suatu ’sosok’ yang Rasulullah bertemu face to face - berhadapan muka? Bukankah Allah adalah Dzat yang Maha Besar yang meliputi seluruh langit dan bumi? Yang sudah demikian dekatnya dengan kita lebih dekat dari urat leher kita sendiri? Yang kemana pun kita menghadap sudah berhadapan dengan-Nya? Kenapa kisah itu menggambarkan Allah sedemikian kecilnya sehingga Dzat-Nya terwadahi oleh langit ke tujuh, di Sidratul Muntaha?
  4. Benarkah Rasulullah menerima perintah shalat saat Mi’raj? Sementara beliau sudah shalat jauh-jauh hari sebelum melakukan perjalanan itu. Yang dalam kisah itu pun sudah digambarkan bahwa beliau melakukan shalat bersama arwah para nabi? Dan perintah shalat lima waktu ternyata bertaburan didalam Al Qur’an lewat wahyu biasa. Benarkah pula Rasulullah menerima perintah shalat dengan cara tawar menawar? Seakan-akan beliau orang yang tidak taat dan ikhlas menerima perintah Allah? Oh, saya tidak tega membayangkan Rasulullah yang demikian tinggi akhlaknya digambarkan sebagai Nabi yang suka menawar perintah Allah. Itu jelas-jelas bukan sifat Rasulullah. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk dalam benak saya.

Maka, di tahun 2004 saya pun menulis buku serial ke-3: ’Terpesona di Sidratul Muntaha’, sebagai luapan kegalauan hati saya tentang berbagai keganjilandalam kisah yang mestinya penuh hikmah itu. Dan sampai sekarang, buku itu menjadi bahan diskusi yang hangat.

Saya lebih suka melihatnya dalam sudut pandang ilmu pengetahuan, yang kebetulan menjadi ketertarikan saya. Sehingga dengan masuk akal bisa dicerna oleh akal sehat, dan bisa di-cross-check dengan data-data ilmiah yang sudah terbukti. Daripada saya bercerita bahwa beliau melakukan perjalanan dengan menunggang hewan berbentuk kuda yang bersayap dan berkepala wanita cantik, saya lebih suka menceritakan lewat teori teleportasi. Yakni tubuh beliau diubah Allah menjadi gelombang cahaya. Dan melakukan perjalanan dengan badan cahaya. Karena beliau memang sedang melakukan 'perjalanan cahaya' bersamamakhluk cahaya yang bernama Jibril dan Buraq. Jadi, cahaya bergerak berdampingan dengan sesama cahaya.

Secara Fisika modern ini semakin mendapat pengakuan dan pijakan bukti-bukti empiriknya, bahwa materi bisa dilenyapkan menjadi energi mengikuti rumus terkenal Einstein E=MC2. Apalagi secara laboratorium, juga bisa dibuktikan bahwa ketika sebuah partikel ditabrakkan dengan anti partikelnya, keduanya bakal lenyap berubah menjadi berkas cahaya. Sebaliknya, ketika seberkas cahaya itu dilewatkan medan inti atom dengan kekuatan tertentu, maka keduanya berubah kembali menjadi pasangan partikel-anti partikel. Ini kita kenal sebagai reaksiannihilasi, alias reaksi pemusnahan. Dan yang sebaliknya sebagai reaksi pair-production.

Memang, bukti-bukti empirik itu baru berada pada tataran laboratorium. Dan baru pada besaran partikel, tetapi itu sudah menjadi jalan keluar yang jauh lebih berharga untuk memberikan penjelasan tentang perjalanan cahayaRasulullah dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha. Karena istilah ’buraq’ itu bermakna ’kilat’. Tetapi, orang dulu menggambarkannya dengan ’kuda bersayap’, karena transportasi yang paling cepat waktu itu adalah kuda. Namun, kok dirasa kurang cepat, maka ditambahi saja sayap...:) Ini khas pemikiran abad pertengahan yang belum mengenal Fisika Modern.

Sedangkan saya lebih suka menggambarkan apa adanya, bahwa Buraq adalahbarqun yang bermakna kilat. Artinya, Rasulullah melakukan perjalanan itu dengan kecepatan kilat alias kecepatan cahaya. Yakni dengan mengubah badan beliau lewat reaksi annihilasi menjelang keberangkatan. Sehingga jarak Mekah-Palestina yang sekitar 1.500 km itu bisa ditempuh hanya dalam waktu 0,05 detik saja. Yang pada zaman Nabi Sulaiman dikatakan sebagai kecepatan yang lebih cepat dari kedipan mata. Yakni, saat staf ahli nabi Sulaiman memindahkan singgasana Ratu Balqis dari negeri Saba’ ke Palestina.

Sedangkan masjid Al Aqsha, memang bukan masjid yang sekarang ada di Palestina itu. Karena masjid ini baru dibangun pada zaman Khalifah Umar bin Khathab dari reruntuhan tempat ibadah nabi-nabi sebelumnya. Gambaran masjid al Aqsha sebagai bangunan yang dilihat Nabi itu menjadi satu paket dengan kisah Isra’ Mi’raj yang saya dengar semasa kecil. Yang kemudian sekedar menjadi penegas tentang benarnya Rasulullah mengalami perjalanan Isra’.

Masjid al Aqsha bermakna ’tempat persujudan yang jauh’. Ini terkait dengan tempat asal mula berkembangnya Islam yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Bahwa, Ibrahim menyiarkan agama Islam dimulai dari Palestina dan berakhir di Mekah. Karena itu, keturunan Ibrahim sebagian besar berada di Palestina, mulai dari Ishaq sampai Isa. Sedangkan keturunan lainnya ada di Mekah, yakni Ismail dan Muhammad SAW.

Maka, pada awalnya, kiblat shalat umat Islam di zaman Nabi Muhammad pun adalah ke arah baitul maqdis, yakni Palestina. ’Tempat persujudan yang jauh’ dimana keturunan Ibrahim awalnya menyiarkan Islam, dan membangun berbagai tempat ibadahnya. Tapi kemudian, Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengubah kiblatnya ke Mekah, ke Ka’bah yang juga dibangun pendiri Islam: Nabi Ibrahim. Karena sesungguhnya, Ka'bah itulah rumah ibadah yang tertua, lebih tua dari yang ada di Palestina.

Perjalanan Isra’ Mi’raj pun memiliki makna napak tilas perjalanan syiar Islam yang bergerak diantara dua kota paling bersejarah itu: Mekah-Palestina. Sebab, Isra’ Mi’raj bertujuan untuk mengangkat semangat Rasulullah SAW yang sedang downdisebabkan perjuangan syiarnya sedang berada di titik paling berat. Diusir, diancam bunuh oleh orang Quraisy, dan ditinggal wafat paman dan Istrinya. Bahkan, setelah itu, Rasulullah memindahkan medan syiarnya ke kota Thaif pun malah diusir dan dilempari batu sampai berdarah-darah.

Maka dengan napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim itu beliau bisa merasakan betapa beratnya juga perjuangan the founding father. Dan, lantas dilanjutkan dengan perjalanan ke puncak langit, Sidratul Muntaha. Apakah untuk bertemu Allah? Ternyata bukan. Melainkan, untuk menyaksikan kedahsyatan ciptaan Allah. Memandang alam semesta raya yang ’berlapis tujuh’ dari puncak tertinggi alam semesta. Sehingga, beliau sampai Terpesona di Sidratul Muntaha. Dan tidak mampu memalingkan pandangannya dari apa yang dilihatnya...

QS. An Najm (53): 14-18
Di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal (lambang keindahan tiada tara), ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu (misteri) yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling (terpaku & terpesona) dari apa yang dilihatnya dan tidak (bisa) melampauinya (tidka bisa melihat apa yang ada di baliknya). Sesungguhnya dia telah melihat sebagianayat-ayat (kekuasaan) Tuhannya yang paling hebat.

Jadi, Mi’raj bukan bertujuan untuk menurunkan perintah shalat, dan mempertemukan Muhammad dengan Allah, melainkan untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang Maha Dahsyat kepada Rasulullah saat-saat beliau sedang terjepit dalam masa perjuangannya. Maka, setelah Isra’ Mi’raj itu Rasulullah menjadi terangkat kembali motivasinya. Lantas berhijrah ke Madinah. Dan kemudian terbukti bisa menaklukkan kota Mekah dari Madinah...!

(Selebihnya, baca buku Terpesona di Sidratul Muntaha. Karena ternyata terlalu banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan disini, disebabkan keterbatasan halaman)
 Agus mustofa
Wallahu a’lam bishshawab.

~ salam ~

Jumat, 26 November 2010

~ SALAH KAPRAH TENTANG ‘KEKHUSYUKAN’ ~

Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat



Ada kesalah-kaprahan yang demikian meluas di kalangan umat Islam, yang saya sendiri pun pernah mengalami. Yakni, tentang kekhusyukan shalat. Banyak diantara kita yang tanpa sadar telah menjadikan ‘khusyuk’ sebagai tujuanshalat. Dan lantas, melupakan tujuan yang sesungguhnya dari shalat itu sendiri.

Sesungguhnya, shalat bukan bertujuan untuk memperoleh kekhusyukan. Karena fungsi dasar shalat memang bukan untuk mencapai kekhusyukan. Fungsi dasar shalat menurut al Qur’an ada dua, yakni: dzikrullah dan memintapertolongan.

QS. Thaahaa (20): 14
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (lidzikriy).

QS. Al Baqarah (2): 45-46
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan bertemu Tuhannya (di dalam shalatnya), dan bahwa mereka (kelak) akan kembali kepada-Nya (bertemu di akhirat).

Khusyuk, dalam ayat di atas didefinisikan sebagai ’keyakinan’ akan bertemu Allah di dalam shalat maupun di luar shalat ~ kelak di hari akhir. Jadi khusyuk bukan tujuan, melainkan motivasi agar kita memiliki keyakinan bahwa kita bisabertemu Allah di dalam aktifitas ibadah kita.

Karena itu, khusyuk bukan menjadi tujuan yang harus dicapai. Cukup ditanamkan ke dalam jiwa kita bahwa kita akan bertemu dan bisa bertemu Allah. Di dalam shalat kita atau ibadah apa pun yang kita lakukan. Karena itu, istilah khusyuk bukan hanya digunakan di dalam ibadah shalat, melainkan juga dalam aktifitas keseharian. Yakni, menunjuk kepada orang-orang yang setiap saat merasa ‘bersama’ Allah. ’Dilihat’ Allah. Dan ’bertemu’ dengan-Nya kemana pun dia menghadapkan wajahnya. Yang karenanya, ia selalu berusaha untuk berbuat kebaikan-kebaikan.

QS. Al Anbiyaa’ (21): 90
Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalahorang-orang yang khusyuk kepada Kami.

Jadi, ketika kita merasa sudah selalu bersama Allah dalam setiap aktifitas, maka kita sudah termasuk orang-orang yang khusyuk itu. Dan orang-orang yang seperti inilah yang berpotensi untuk khusyuk juga di dalam shalat. Asal tidak salah menempatkan niat, yaitu: shalat untuk mengejar kekhusyukan.

Maka, kalau Anda cermati QS. 2: 45-46 di atas, antara shalat dan kekhusyukan itu prosesnya lebih dulu kekhusyukan. Karena itu kalimatnya begini: ’... yang demikian (menjadikan shalat sebagai media minta tolong) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk...’

Jadi, hanya orang-orang yang sudah khusyuklah yang akan merasa mudah dan ringan untuk meminta pertolongan kepada Allah lewat shalat. Jangan terbalik: dengan shalat kita mengejar kekhusyukan.

Berarti, prosesnya harus dibalik. Kita belajar khusyuk dulu di luar shalat ~ yakni membangun kedekatan dengan-Nya setiap saat ~ maka dengan sendirinya, shalat kita akan menjadi mudah dan ringan untuk minta tolong kepada-Nya. Saat itu, pasti kita ’sudah bertemu’ dengan-Nya di dalam shalat. Bagaimana tidak, lha wong kita sudah berdialog untuk meminta pertolongan kepada-Nya.

Karena itu, bagi yang belum bertemu Allah di dalam shalat, sebaiknya belajar membangun kekhusyukan di luar shalat. Jadikanlah setiap peristiwa sebagai media untuk berdialog dengan-Nya. Dapat musibah dikaitkan dengan Allah, dapat kenikmatan juga dikaitkan dengan Allah. Bangun tidur dikaitkan dengan Allah, sarapan dikaitkan dengan Allah, bekerja dikaitkan dengan Allah, ketemu kawan dikaitkan dengan Allah, diskusi dikaitkan dengan Allah, dan seterusnya sampai tidur kembali dikaitkan dengan Allah.

Inilah orang-orang yang khusyuk itu. Dan orang yang semacam ini, akan dengan ringannya melakukan shalat untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Di luar shalat ia khusyuk, di dalam shalat pun ia khusyuk. Karena kekhusyukan memang sudah menjadi jiwanya setiap saat...

Maka, melakukan ibadah shalat bukan untuk mengejar kekhusyukan. Orang yang demikian, justru telah menggeser perhatian utamanya: dari bertuhan kepada Allah menjadi bertuhan kepada kekhusyukan. Maka, Allah tidak akan menganugerahkan kekhusyukan kepadanya. Karena yang dirindukan memang bukan Allah, melainkan ’kekhusyukan’.

Allah tidak mengajarkan cara untuk mencapai kekhusyukan, melainkan sekedar memotivasi untuk menjadi khusyuk, yakni mengaitkan segala peristiwa dengan kehadiran-Nya. Apa pun yang hadir di sekitar kita adalah Allah. Baik maupun buruk. Allah sedang menampakkan Diri-Nya kepada kita dalam semua peristiwa. Di luar shalat maupun di dalamnya.  Lha Dia sedang menampakkan Diri-Nya kepada kita, kok kita tidak menyambut-Nya, melainkan malah sibuk mencari ’kekhusyukan’ dengan berpusat pada diri sendiri... :(

’Kekhusyukan’ baru akan diperoleh kalau kita memusatkan perhatian kepada Allah, bukan kepada diri sendiri. Kita tinggal memperhatikan-Nya dan kemudian menyambut-Nya, bukan mencari. Dia sudah hadir. Sudah hadir dimana pun dan kemana pun kita menghadap. Bukan dicari, cuma disadari dan ’diperhatikan’ belaka.

Dia sudah hadir di dalam segala yang kita lihat...
Dia sudah hadir di segala yang kita dengar...
Dia sudah hadir di segala yang kita ucapkan...
Dia sudah hadir di segala yang kita pikirkan...
Dia sudah hadir di segala yang kita diskusikan...
Dia sudah hadir di seluruh penjuru peristiwa yang melingkupi kita...
Bahkan Dia sudah hadir di triliunan sel-sel tubuh kita...
Karena Dia memang sudah meliputi kita dan seluruh alam semesta...
Kenapa kita masih mencari-Nya...?

Perhatikan saja apa yang sedang muncul dalam kesadaran Anda...
Dan kemudian rasakanlah, bahwa Allah sedang ’menampakan’ Diri-Nya di ufuk mana pun kita menghadapkan wajah...

QS. Al Baqarah (2): 115
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamumenghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

QS. An Nisaa’ (4): 126
Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah AllahMaha Meliputi segala sesuatu.

 Agus Mustofa
Wallahu a’lam bishshwab
~ salam ~

(Dicuplik dan disarikan dari buku ke-26: ’KHUSYUK, berbisik-bisik dengan Allah’)



Kamis, 25 November 2010

~ SALAH KAPRAH TENTANG ‘SANTUN & MENGULTUSKAN' ~

Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat


Ternyata masih ada yang bingung membedakan antara makna kata ‘santun’ dan ‘mengultuskan’. Sehingga, memunculkan 'tanda tanya' di hati saya: apakah diskusi ini bisa diteruskan ke bagian yang ‘lebih dalam’? Karena, ternyata ada setumpuk persepsi yang ‘tidak klop’. Khawatir hanya akan menjadi debat yangkontraproduktif.

Allah memuji-muji Rasulullah sebagai orang yang santun dan berbudi pekerti tinggi. Jangan-jangan, nanti dipersepsi sebagai: Allah mengultuskan Rasul-Nya. Apalagi sampai memuji-mujinya di dalam Kitab Suci yang dibaca oleh miliaran manusia. Masih ditambahkan pula, memerintahkan kepada malaikat dan kita semua untuk bershalawat kepada beliau. Bisa-bisa dipersepsi dengan salah kaprah nantinya...

QS. Al Qalam (68): 4
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.

QS. Al Ahzab (33): 56
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Nabi Ibrahim pun dipuji-puji oleh Allah karena kesantunannnya. Dengan sangat terbuka Allah menyebut beliau sebagai manusia yang sangat santun dan berhati lembut. Bahkan kepada orang tuanya yang jelas-jelas musyrik pun. Jangan-jangan pula, nabi Ibrahim disimpulkan mengultuskan orang tuanya yang musyrik.

QS. At Taubah (9): 114
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu memusuhi Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

QS. Huud (11): 75
Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.

Lebih jauh, Al Qur’an mengajari kita semua untuk menjadi orang yang santun. Apalagi kepada sesama saudara muslim. Sehingga dalam ayat berikut ini Allah menunjukkan kepada kita, para sahabat Rasul saling mendoakan, sambil memohon untuk tidak dihinggapi rasa dengki kepada para pendahulunya. Dan doa itu disampaikan kepada Allah, Dzat Yang Maha Penyantun.

QS. Al Hasyr (59): 10
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkankedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".

Maka, ajaran dari manakah yang diambil oleh seseorang yang mengaku dirinya muslim tetapi ungkapannya setiap saat adalah kata-kata kasar, sumpah serapah, caci maki, dan penghinaan kepada sesama saudara dalam agama? Masih layakkah ia mengaku dirinya pengikut nabi Muhammad yang demikian santun dan berbudi pekerti tinggi?

Juga masih layakkah dia mengaku dirinya Islam, sebagaimana Nabi Ibrahim yang dijadikan contoh keteladanan tertinggi dalam agama ini, sehingga puncak rukun Islam adalah meneladani dan menapaktilasi keluarga beliau yang santun dan lemah lembut, dengan cara berhaji?

Juga masih pantaskah ia menyebut dirinya sebagai hamba Allah yang Maha Penyantun, dan selalu mengajarkan kesantunan kepada siapa saja? Jangan-jangan, ia hanya pura-pura saja jadi orang Islam. Untuk menebarkan bibit-bibit kebencian di dalam agama Islam yang sempurna ini? Yang kasih sayang menjadi landasan utama di dalamnya...

QS. Ali Imran (3): 108
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi temankepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Sungguh, santun berbeda jauh dengan mengultuskan. Mengultuskan adalah ’mendewa-dewakan’. Sedangkan santun adalah menghargai dengan tulus dan penuh kasih sayang. Jauh dari kebencian. Mengultuskan adalah menjadikan seseorang itu sebagai ’bagian’ dari unsur ketuhanan. Dan ini, tentu saja sangat 'tidak disukai' oleh Allah. Jangankan mengultuskan orang seperti saya. Mengultuskan Rasul saja dilarang oleh Allah. Padahal, jelas-jelas beliau adalah utusan Allah. Sebagaimana terjadi pada nabi Isa, yang kemudian dikoreksi lewat turunnya Rasul berikutnya, Nabi Muhammad SAW. Beliau pun mengatakan, bahwa dirinya adalah manusia biasa.

QS. AL Kahfi (18): 110
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia (biasa) seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Sehingga dalam kesempatan lain beliau diperintahkan oleh Allah untuk menegaskan bahwa beliau tidak menguasai perbendaharaan ciptaan Allah, atau pun hal-hal gaib, dan bukan pula seorang malaikat. Sepenuhnya manusia biasa. Sebuah statemen yang mengombinasikan ‘kesantunan’ dan ‘ketinggian budi pekerti’, sekaligus tidak mengultuskan sang Nabi.

QS. Al An’aam (6): 50
Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikutikecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak (bisa) berpikir?

Maka, segala yang saya lakukan adalah sekedar meniru Rasulullah dalam menyampaikan wahyu-Nya kepada sesama pencari jalan menuju Allah. Meminjam istilah ayat di atas: Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan (al Qur’an)...

Karena itu, Anda akan ‘dengan jelas’ melihat dan membaca dalam buku-buku saya: isinya penuh dengan ayat-ayat Qur’an. Bukan karya ilmiah dari ulama-ulama terdahulu yang justru dikultuskan oleh para pengikutnya sampai kini. Yang kitab-kitabnya disetarakan dengan al Qur’an. Yang ijtihadnyadianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak yang tidak boleh diutak-atik lagi. Yang kalau dikritisi sedikit saja, para pengikutnya ’mencak-mencak’ sambil mengucapkan sumpah serapah dan caci maki...(?!)

Oh, siapa mengultuskan siapa...?!
Kenapa saya yang dituding jadi sumber pengultusan? Sementara, saya justru sedang mengritisi pengultusan yang berlebih-lebihan kepada para ulama - yang saya yakin - mereka tidak ingin dikultuskan. Meminjam istilah ayat di atas:Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak (bisa) berpikir?

Saya justru sedang mengajak kawan-kawan muslim, sesama ’pencari jalan’ untuk hanya ‘mengultuskan’ Allah saja, dan menghormati setinggi-tingginya Rasulullah dengan bershalawat kepada manusia agung yang berbudi sangat mulia itu. Dan, menyejajarkan saudara-saudara sesama muslim - siapa pun dia - selain Allah dan Rasul-Nya. Kok, malah saya dituduh jadi sumber pengultusan?

Lha wong buku-buku saya selalu saya labeli: Serial Diskusi Tasawuf Modern. Tanpa ada pretensi sedikit pun untuk mengklaim sebuah kebenaran. Melainkan sekedar ajakan untuk berdiskusi secara egaliter – sejajar – dan penuh prasangka baik untuk mencari petunjuk Allah.

Saya juga mencoba ‘mengeliminasi’ dominasi ‘guru’ - dalam pengertian konvensional - yang selama beratus tahun dijadikan sebagai ‘panutan mutlak’, dan menjadi sumber pengultusan. Yang kalau tidak diikuti, sang guru lantas mengatakan: siapa saja belajar agama tanpa guru, maka gurunya adalah setan... (?) Sehingga saya sendiri pun tidak mau dan ‘risih’ disebut sebagai guru, ustad, kiai, syech, dan lain sebagainya. Saya cuma ingin meniru Rasulullah, yang tidak pernah mengangkat dirinya sebagai guru. Beliau menyebut umat Islam yang hidup sezaman dengan beliau sebagai sahabat. Anda tidak akan pernah mendengar Rasulullah Muhammad punya murid. Dan statemen seperti ini, bisa Anda baca dalam banyak buku-buku yang telah saya terbitkan.

Saya juga mencoba membongkar ‘paradigma-paradigma’ lama yang mengatakan bahwa belajar agama harus ‘manut’ saja kepada mereka yang disebut sebagai ‘’kiai, syech, habib, ustad, ustadah, guru, prof, doktor, atau apa pun sebutannya’’. Saya sedang ‘berjuang’ untuk membongkar pengultusan, lha kokmalah dapat ‘hadiah’ predikat sumber pengultusan... :(

Sampai-sampai, ada kawan yang bilang begini: ‘’makanya pak Agus, jangan merebut lahan tetangga...! Nanti banyak yang marah lho...’’

Oh, demi Allah saya melakukan semua ini hanya karena Allah semata...
 Agus Mustofa
Wallahu a’lam bishshawab.
~ salam ~

Rabu, 24 November 2010

~ SALAH KAPRAH TENTANG ‘CARA BERDAKWAH’ ~

Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat


Betapa prihatinnya melihat sebagian saudara seagama kita yang berdakwah secara salah kaprah. Berdakwah itu kan mengajak orang lain untuk menuju kepada kebaikan. Lha kok, ada orang mengajak kebaikan sambil melakukanketidakbaikan. Mulai dari sumpah serapah, caci maki, kata-kata kotor, muka merah padam penuh kebengisan, sampai ungkapan penuh dendam dan kebencian. Bahkan tak jarang sambil melakukan kekerasan yang tergolong sebagai tindak kejahatan..?!

Realitasnya memang bisa terjadi dalam berbagai skala. Mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Yang ringan itu, misalnya: berdakwah sambil memendam perasaan ’tidak suka’ kepada orang yang sedang didakwahi. Ketidaksukaan semacam itu  pasti akan terasa oleh orang yang sedang dihadapinya, meskipun sudah ’dibungkus’ rapat dan rapi.

Yang lebih berat tingkatannya adalah, berdakwah sambil ’melotot’ dan ’tersenyum sinis’. Dakwah yang begini ini juga pasti kurang efektif. Masa, berdakwah sambilpelotat-pelotot, dan ’menyeringai sinis’ sebagai simbol merendahkan orang lain begitu. Apa ya betah, orang yang berada di depannya?

Yang lebih berat lagi, selain melotot dan menyeringai sinis, masih ditambahi dengan ’ngomel-ngomel’ dan berkata-kata kasar, mencaci maki, serta sikap tidak santun. Wah, yang begini ini bakal menjadikan jamaahnya seperti duduk di atas bara api. Pingin segera meninggalkan ruangan aja.

Yang semakin berat, adalah ditambahi menuding-nuding dan menunjuk-nunjuk hidung lawan bicara. Seakan-akan orang-orang selain dia salah semua. Dijamin, sebelum selesai acara, jamaah sudah pada pulang semua. Pikir mereka, lebihenakan nonton ceramah di TV, atau di VCD, atau mendengar lagu-lagu qasidah saja, bisa sambil goyang-goyang kaki menikmatinya.

Yang lebih berat dari semua itu, adalah dakwah yang ditambahi ancaman-ancaman fisik. Dan hukuman-hukuman bagi siapa yang melanggar doktrin. Yang begini ini mulai masuk dalam lingkaran radikalisme. ’Mana tahan’ mendengarkan dakwah seperti ini, kecuali orang-orang yang telah mengalami indoktrinasi secara khusus oleh pimpinannya.

Dan yang yang paling berat klasifikasinya, adalah orang yang berdakwah sambil merusak properti atau apa saja milik orang lain. Kadang-kadang saya bertanya-tanya dalam hati: mereka ini sedang berdakwah ataukah sedang melakukan teror..?! Berdakwah kok sambil menghancurkan sendi-sendi dakwahnya sendiri. Mana mungkin berhasil? Dia sedang membangun Islam ataukah merusakIslam ya..?!

Saya mencoba flash back ke zaman Rasulullah dan para sahabat. Pernahkah Rasulullah SAW mengajarkan cara dakwah seperti itu kepada umatnya? Tidak pernah sekalipun. Tidak ada ceritanya, beliau melakukan dakwah dengan cara menyakiti orang-orang yang sedang didakwahi. Bukannya diikuti, bisa-bisa malah ditinggal pergi.

QS. Ali Imran (3): 159
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah merekamenjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, makabertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Kalau kita perhatikan firman Allah di atas, dakwah Islamiyah itu harus dilandasi sejumlah karakter dasar, yaitu: lemah lembut, tidak bersikap keras dan kasar, penuh maaf, bermusyawarah alias mendengarkan pendapat orang lain, dan kemudian bertawakal kepada Allah akan hasilnya. Tugas kita hanya menyampaikan, kok. Jangankan kita, Rasulullah pun tugasnya cuma menyampaikan. Ma ’ala rasuli ilal balagh ~ Tidak ada tugas rasul itu kecuali sekedar menyampaikan. Soal apakah seseorang akan dapat petunjuk ataukah malah ingkar, itu urusan sepenuhnya orang tersebut dengan Allah.

Nah, yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Banyak pendakwah yang berdakwah dengan  arogan, diiringi kata-kata kasar, sambil mengumbar kebencian, memaksakan kehendak dan mau menang sendiri. Jika, semua itu tidak terjadi seperti yang dimaui, mereka bakal melakukan pemaksaan dengan cara mengancam dan merusak. Masa pantas, seseorang yang mengaku dirinyamuslim melakukan perbuatan seperti itu. Berkata kasar saja Allah melarang apalagi berbuat kerusakan.

Oh, cara-cara siapakah yang dipakai ini? Sementara Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengajari begini. Saya membayangkan betapa sedihnya Nabi, jika beliau menyaksikan semua ini.

Atau, boleh jadi, ini adalah sebuah ’skenario besar’ dari kalangan munafik untuk merusak image Islam sebagai agama damai dan santun. Jika benar, maka sungguh kita harus mewaspadainya. Karena biasanya, mereka masuk dengan cara berpura-pura, dan memakai identitas palsu untuk menarik simpati. Lantas, ujung-ujungnya menebar perpecahan pada umat...

Pelajaran yang kedua, menurut al Qur’an, dakwah harus dirupakan dalam bentukamar ma’ruf nahi munkar ~ mengajak kebaikan, mencegah kejahatan. Bukan terbalik: nahi munkar amar ma’ruf. Artinya, yang harus didahulukan itu adalahmengajak pada kebaikan, barulah kemudian ’mencegah terjadinya kejahatan’.

Dengan kata lain, pencegahan kejahatan tidak akan efektif selama umat ini belum diberi tahu harus melakukan bentuk-bentuk kebaikan. Tahunya mereka cuma dilarang saja, tetapi tidak ditunjukkan jalannya harus kemana. Maka, tunjukkanlah terlebih dahulu, umat ini mau dibawa kemana. Setelah itu, cegahlah hal-hal negatif yang akan menggangu tercapainya tujuan baik tersebut. Begitulah semestinya cara berdakwah sesuai al Qur’an.

Yang ketiga, cara berdakwah yang baik adalah mengikuti koridor ayat berikut ini.

QS. An Nahl (16): 125
Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yangbaik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yangtersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Bahwa ajakan atau dakwah itu harus berlandaskan:
  1. Hikmah, yakni kedalaman substansi yang disampaikan dengan cara yang bijak ~ penuh hikmah. Karena, pada dasarnya, manusia suka diajak untuk memahami sesuatu yang mendalam, dan mengantarkannya kepada kedamaian spiritualnya.
  2. Mauidhatul hasanah, alias pelajaran yang disampaikan dengan sistematika dan metode yang baik. Jika cara penyajiannya amburadul, tentu tidak akan efektif.
  3. Diskusi dan adu argumentasi, saling menghargai pendapat secara kritis & obyektif. Bukan subyektif menyerang orangnya, melainkan mendiskusikan materinya.
  4. Tidak melakukan klaim kebenaran, karena kebenaran hanyalah milik Allah.

Oh, betapa nikmatnya melakukan dakwah dengan cara demikian..! Yang menyampaikan dan mendengarkan sama-sama memperoleh manfaat. Tidak ada guru, tidak ada murid. Karena, semuanya adalah sesama pencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sesungguhnyalah, Rasulullah pun tidak pernah mengangkat dirinya sebagai guru atas sahabat-sahabatnya...!
 Agus Mustofa

Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~

Selasa, 23 November 2010

~ SALAH KAPRAH TENTANG ‘AS SUNNAH & AL HADITS’ ~

Ebook islam, sholat sempurna, cara sholat nabi, sholat berjamaah di masjid, sholat khusyu, web islam, jadwal waktu sholat, artikel islami, makna bacaan dan doa solat


Banyak diantara kita yang masih rancu dalam memahami As Sunnah dan Al Hadits. Mengira sama, padahal keduanya adalah hal yang sangat berbeda. As Sunnah adalah segala ucapan dan perbuatan Rasulullah, saat beliau masih hidup. Sedangkan Al Hadits adalah catatan para ulama hadits, yang baru dilakukan setelah Rasulullah wafat.

Saat Rasulullah masih hidup, beliau justru melarang para sahabat untuk mencatat ucapan dan perbuatan beliau. Karena dikhawatirkan akan mengacaukan catatan al Qur’an yang sedang dalam masa penulisan. Yakni, selama 23 tahun masa kenabian. Hal itu diungkap, salah satunya, dalam muqadimah Al Qur’an keluaran Arab Saudi, dalam bab penyusunan al Qur’an.

Bersabda Rasulullah SAW: Janganlah kalian tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang (telanjur) menuliskan ucapanku selain al Qur’an hendaklah dihapuskan. Dan kamu boleh meriwayatkan (secara lisan) perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah di neraka.
(HR Muslim dari Abu Al Khudri).

Hadits baru mulai ditulis dan dibukukan di zaman khalifah Umar bin Abdul Azis (717-720 M) dan khalifah-khalifah penerusnya. Meskipun, Rasulullah sudahmelarang untuk menulisnya, dan tidak pernah memberikan perintah untuk membukukannya. Tetapi, sang Khalifah memutuskan berijtihad untuk melakukannya dengan sejumlah pertimbangan.

Peristiwa itu terjadi, setelah lebih dari 100 tahun wafatnya Rasulullah SAW. Sang Khalifah memerintahkan untuk melakukan penelusuran kepada orang-orang yang dianggap bisa dipercaya, sambung-menyambung dari generasi saat itu ke generasi bapaknya, ke bapaknya lagi, ke bapaknya lagi, sampai ke zaman para sahabat yang hidup bersama Rasulullah. Karena itu redaksi hadits adalah: katanya si A, dari si B, dari si C, dan seterusnya.

Jadi, penulisan Hadits tidak dilakukan atas perintah Rasul (bahkan dilarang di zaman beliau masih hidup) dan dengan sendirinya tidak berada di bawahpengawasan beliau, sebagaimana Al Qur’an. Hadits adalah murni karya ilmiahpara ulama. Yang tentu saja keotentikannya sangat jauh di bawah al Qur’an, yang dikodifikasi langsung di bawah pengawasan Rasulullah, serta dijamin keotentikannya oleh Allah.

QS. Al Hijr (15): 9
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kamibenar-benar memeliharanya.

Maka, bermunculanlah para ulama hadits dengan berbagai karyanya. Diantaranya adalah Imam Malik bin Anas, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Majah, At Turmudzi, Abu Dawud, dan An Nasai. Mereka adalah para ilmuwan hadits yang karyanya banyak dirujuk oleh umat Islam sesudahnya. Tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Hadits itu bukanlah As sunnah itu sendiri. Melainkan sebuah upaya untuk menelusuri As sunnah.

Sehingga adalah salah kaprah kalau ada yang menuduh orang yang tidak menggunakan hadits disebut-sebut sebagai inkar sunnah. Bahkan inkar Rasul (?) Orang itu pasti tidak paham beda antara al hadits dan as sunnah. Dan ’lupa’, bahwa wasiat yang ditinggalkan oleh Rasulullah kepada umat Islam bukanlah Al Qur’an dan Al Hadits, melainkan Al Qur’an dan As Sunnah.

As Sunnah adalah keteladanan beliau yang bisa diceritakan dalam berbagai bentuk. Ada yang lewat riwayat lisan sebagaimana zaman 100 tahun pertama setelah beliau wafat. Saat itu, memang belum ada hadits yang dituliskan. Atau, bisa juga dalam bentuk tertulis seperti karya-karya para ulama hadits. Atau, bisa juga berupa tradisi turun temurun lintas generasi seperti dicontohkan Rasulullah dalam bentuk shalat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, dan ibadah haji-umroh. Semua itu, langsung merujuk kepada praktek yang dicontohkan nabi danditradisikan secara lintas generasi, sampai sekarang.

Mengenai penggunaan hadits, memang tidak harus. Melainkan adalah sebuah pilihan. Boleh menggunakan, boleh juga tidak. Jika hadits dirasa bisa memberikan tambahan penjelasan terhadap ayat-ayat Qur’an yang sedang dibahas, maka kita dianjurkan untuk menggunakannya. Tetapi, jika hadits itu dianggap malah merancukan pemahaman terhadap ayat Qur’an, sebaiknya tidak usah digunakan.

Imam Syafi’i pun tidak pernah menggunakan hadits Imam Bukhari, misalnya. Kenapa? Ya, karena Imam syafi’i hidup di zaman sebelum imam Bukhari. Jadi, hadits-hadits imam Bukhari itu memang belum ada di zaman beliau masih hidup.

Selain itu, yang perlu dimengerti adalah hal berikut ini. Hadits dimaksudkan untuk menjelaskan As Sunnah. Sedangkan As Sunnah dimaksudkan untuk menjelaskan Al Qur’an. Maka, sudah seharusnya hadits tidak boleh bertentangan dengan Al Qur’an. Bahkan harus bersumber dari al Qur’an. Cara mengutip hadits yang benar adalah dengan mengutip ayat Qur’an terlebih dahulu, baru kemudian mengutip haditsnya. Sayang sekali, diantara kita ada yang suka megutip hadits tanpa mengutip sumber ayat di dalam Al Qur’an. Dan tetap memaksakan hadits itu, meskipun tidak ada rujukannya di dalam al Qur’an. Padahal, bukankah fungsi hadits dimaksudkan untuk menjelaskan ayat Qur’an?

Hal berikutnya lagi yang perlu diketahui, bahwa ternyata tidak semua ayat Qur’an ada penjelasannya di dalam hadits. Hanya sekitar sepertiga saja dari jumlah ayat Qur’an yang ada asbabun nuzul-nya berupa penjelasan hadits. Selebihnya, yang lebih banyak, tidak ada penjelasan haditsnya. Jadi, bagaimana mungkin kita bisadiharuskan untuk menggunakan hadits, sementara haditsnya tidak ada?

Sangat banyak contoh yang bisa dikemukakan. Terutama ayat-ayat ilmu pengetahuan. Ambillah beberapa ayat berikut ini.

QS. Al Ghasiyah (88): 17-20
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Danlangit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana iaditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Anda tidak akan menemui penjelasan haditsnya, tentang bagaimana Allah menciptakan unta, langit, gunung-gunung, dan bumi. Karena, penjelasannya memang ada di ilmu pengetahuan alam: Biologi, Astronomi, dan Geologi. Bisa dipastikan, Anda tidak akan menemukannya di hadits. Lha wong di al Qur’an saja tidak dijelaskan. Kenapa? Karena ayat itu dimulai dengan kalimat: afala yanzhurun ~ apakah mereka tidak mengamati/ meneliti (langsung di lapangan). Jadi, ini adalah perintah untuk melakukan penelitian secara scientific. Dalam tataran ini al Qur’an bukan dijelaskan oleh hadits, melainkan dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan data-data empirik-nya.

Jangankan ayat-ayat ilmu pengetahuan, surat al Fatihah pun tidak ada catatanasbabun nuzul-nya. Sehingga, Anda tidak akan menemui penjelasan hadits tentang makna kata per kata yang sangat mendalam di surat yang disebut ummul kitab itu. Misalnya: Apa makna bismillahirrahmanirrahim. Apa maknaalhamdulillahirrabbil alamin. Apa makna Ar rahman Ar Rahim, dst.

Justru, di dalam al Qur’an-lah Allah memberikan petunjuk-Nya. Bahwa yang bisa mempelajari ayat-ayat Qur’an itu adalah para ulul albab ~ orang-orang yang mempunyai akal kecerdasan. Yakni, mereka yang memaksimalkan fungsi hati untuk merasakan kehadiran Allah dan fungsi pikiran untuk menganalisa ilmu-ilmu yang dihamparkan di alam semesta raya ini, secara simultan.

QS. Ali Imran (3): 191
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (dzikrullah) sambil berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan (tafakur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Maka, sudah seharusnya umat Islam meletakkan sumber-sumber hukum Islam secara proporsional. Bahwa sumber dari segala sumber hukum yang bersifat mutlak adalah Firman Allah, al Qur’an al Karim. Setelah itu, adalah As Sunnah, ketika Rasulullah masih hidup. Setelah itu, adalah buku-buku Hadits, ijtihad para ulama, dan bukti-bukti empiris ilmu pengetahuan, yang terus berkembang ke masa depan...
Agus Mustofa 

Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~